RADAR MOJOKERTO - Hedonisme adalah suatu paham filsafat berorientasi pada kenikmatan dan kepuasan pribadi. Hedone berasal dari bahasa Yunani berarti kesenangan dan kini dimaknai dengan suatu perbuatan atau sikap mengejar kesenangan melalui tindakan yang banyak mengorbankan materi untuk mendapat kenikmatan bagi dirinya sendiri.
Penganut hedonisme biasanya hanya berfokus pada tindakan pemuasan dan pemenuhan keinginan dalam diri juga menghindari rasa sakit.
Salah satu contoh hedonisme adalah senang menghamburkan uang untuk berbelanja secara berlebih dan berfoya-foya untuk memenuhi keinginan yang bisa jadi itu hanyalah emosi sesaat saja.
Aliran hedonisme ini kemudian berkembang menjadi sebuah paham negatif, sebab makna pemenuhan kepuasan dan keinginan kerap jadi alasan utama seseorang mengabaikan masalah keuangan sehingga bisa menimbulkan keretakan hubungan dengan sekitar.
Namun ternyata paham hedonisme tak sepenuhnya berkonotasi negatif loh! Seorang filsuf asal Yunani dan salah satu pencetus aliran hedonisme, Epicurus justru mendefinisikan hedonisme sebagai langkah sederhana dalam pencapaian kesenangan.
Dilansir dari artikel Positive Psychology.com, Epicurus mendefinisikan hedonisme tidak selalu perihal kenikmatan indera semata seperti definisi hedonisme kebanyakan, melainkan soal kesenangan untuk ketenangan dan kedamaian pikiran.
Terdengar sejalur dengan aliran stoic soal kedamaian, namun hedonisme Epicurus masih berkutat dengan aspek materialis dan melibatkan aspek moral dan etis pula di dalamnya.
Baca Juga: Mandi Malam Bikin Rematik? Fakta atau Hanya Sekadar Mitos?
Asumsi Dasar Hedonisme Epicurus
Dalam sebuah buku karya Epicurus, The Art of Happiness, hedonisme memiliki dua asumsi dasar yang sifatnya materialistis.
1. Kebajikan sama dengan kesenangan jasmani maupun rohani. Kesenangan bagi Epicurus tidak hanya melibatkan satu aspek, bisa jadi keduanya dan bertingkat.
2. Kejahatan sama seperti penderitaan, baik jasmani maupun rohani. Dalam aspek ini, Epicurus mempertimbangkan tindakan moral dan manusia bisa memilih bagian untuk menghindari rasa sakit.
Deskripsi Hedonisme Epicurus
Hedonisme Epicurus tidak pernah terlepas dari kesenangan dan ketenangan pikiran serta norma etis.
Menurut Epicurus, hidup penuh kenikmatan ketika seseorang mampu mendisiplinkan nafsu, membatasi keinginan dan kebutuhan, menjauhkan diri dari titik ideal kehidupan tertinggi, serta tidak terlalu aktif dalam kehidupan komunal.
Epicurus dalam karyanya menuliskan soal kesenangan sebagai tujuan hidup, namun bukan tentang kenikmatan individual seperti teori hedonisme kebanyakan.
Menurut filsuf abad 341 SM ini, kesenangan adalah tentang kemerdekaan dari penderitaan jasmani maupun rohani dan sifatnya netral.
Epicurus mendefinisikan kesenangan dengan menyebutkan kenyamanan jasmani, kemakmuran, dan kedamaian pikiran.
Epicurus menilai bahwa tidak semua kesenangan diperlukan dan tidak semua penderitaan dihindari.
Baca Juga: Pengawasan TBM Lemah, Besi Lampu Kembali Lenyap
Mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan antara kesenangan dan penderitaan penting bagi Epicurus. Sebab, kesenangan membutuhkan seleksi rasional antara kesenangan dan penderitaan didalamnya.
Selain itu, Epicurus juga menekankan tentang hedonisme yang tidak sesuai dengan etika sosial seperti sifat egois dan merusak.
Pada dasarnya, hedonisme Epicurus selalu berbicara tentang kesenangan dan kedamaian pikiran, bukan tentang tindakan menghamburkan uang untuk meraih kenikmatan, melainkan pertimbangan kesenangan dan penderitaan yang hadir.
Epicurus juga selalu mengedepankan norma etis dan kebajikan atas setiap hedone atau kesenangan yang ada.
Editor : Imron Arlado