Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Berkedok Self Reward, Kenali Apa Itu Doom Spending, Faktor, Dampak dan Tips Mengatasinya!

Eki Septian Tri Wulansari • Kamis, 3 Juli 2025 | 22:36 WIB
Berkedok Self Reward, Kenali Apa Itu Doom Spending, Faktor, Dampak dan Tips Mengatasinya!
Berkedok Self Reward, Kenali Apa Itu Doom Spending, Faktor, Dampak dan Tips Mengatasinya!

RADAR MOJOKERTO - Berbelanja dan checkout barang melalui berbagai laman e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok memang terdengar lumrah di era digital.

Namun apa jadinya jika kebiasaan ini terus dilakukan tanpa pertimbangan finansial secara matang dengan berkedok self reward? Dalam kondisi ini bisa jadi kamu terjebak dalam fenomena doom spending. Apa itu fenomena doom spending?

Apa itu Doom Spending?

Dilansir dari berbagai sumber, istilah doom spending muncul dengan definisi tindakan berbelanja yang dilakukan secara impulsif dan cenderung berlebihan akibat dorongan emosional seperti cemas dan stress.

Pembelian barang dilakukan dengan tanpa memperhatikan kondisi perekonomian, belanja di luar anggaran keuangan, dan biasanya dikarenakan emosi sesaat.

Perilaku doom spending akan menganggap bahwa berbelanja adalah cara meredakan stress dan upaya menenangkan diri di tengah ketidakstabilan yang terjadi.

Doom spending menjadi titik gelap yang bisa jadi kurang disadari bagi para generasi milenial dan gen z karena bersanding dengan istilah self reward.

Baca Juga: Ramalan Tarot Juli 2025, Beberapa Zodiak Menemukan Cinta Baru, Siapa Saja?

Faktor Pemicu Doom Spending

Faktor psikologis

Dikutip dari jurnal Transnegara, faktor psikologi seperti kecemasan, stress, ketakutan, dan keinginan untuk tetap memiliki kendali dalam situasi tidak stabil menjadi pemicu terjadinya doom spending.

Faktor sosial

Tekanan dan budaya konsumtif untuk pemenuhan standar hidup tertentu memicu munculnya perilaku merugikan bagi kesehatan mental maupun finansial seseorang.

Faktor sosial seperti FOMO (Fear of Missing Out) menjadi pendukung dari tindakan doom spending pada generasi millenial dan gen z. 

Teknologi pendukung

Saat ini, kemudahan berbelanja mendukung perilaku doom spending. Teknologi menjadi salah satu pemicunya apabila tidak dipergunakan secara bijaksana.

Dampak Doom Spending

Dampak dari doom spending atau menghamburkan uang secara impulsif diluar budget bulanan tentunya bersifat negatif, diantaranya

1. Lelah secara emosional

Berbelanja dengan impulsif akan memicu kecemasan setelahnya. Meski, doom spending awalnya didasari sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan dari berbelanja, namun ternyata sebaliknya.

Pengeluaran tidak semestinya akan memicu rasa tidak aman dari segi finansial, menghadirkan pikiran negatif akibat kegiatan impulsif, dan selanjutnya menambah beban emosional.

Jika dilakukan secara terus menerus, perilaku ini akan memperparah kondisi kesehatan mental sehingga menyebabkan kelelahan secara emosional

2. Menumpuk hutang

Pengeluaran gila-gilaan diluar budget dan tidak memperhatikan kondisi perekonomian bisa menimbulkan penumpukan hutang.

3. Mengganggu rencana keuangan

Kebutuhan pokok yang seharusnya terpenuhi, misalnya melakukan pembelian rumah, membayar token listrik bulanan, atau hal penting lainnya akan terganggu jika perilaku doom spending ini terus dilakukan berkelanjutan.

Rencana keuangan bisa jadi tidak tersalurkan dengan tepat karena telah dipergunakan untuk hal tidak semestinya akibat spontanitas untuk membeli barang-barang tidak dibutuhkan dengan berkedok self reward.

Baca Juga: Dianggap Aura Farming dan Viral di TikTok, Ini Fungsi Penari Cilik Pacu Jalur Asal Riau!

4. Memicu konflik dengan sekitar

Konflik dengan keluarga, sahabat, dan pasangan bisa terjadi akibat perilaku doom spending. Biasanya pada konteks ini melibatkan aspek keuangan, misalnya peminjaman uang yang tak kunjung dikembalikan akibat pembelian secara impulsif.

Tips Mengatasi Doom Spending

Dalam upaya mengatasi perilaku doom spending, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan

  1. Menyusun anggaran dengan jelas dan terstruktur
  2. Melakukan aktivitas positif seperti olahraga
  3. Meditasi untuk menenangkan pikiran dan mengontrol kecemasan
  4. Membatas pemakaian e-commerce
  5. Memilih penggunaan uang tunai dalam berbelanja
  6. Berpikir berulang kali ketika akan melakukan transaksi diluar budget bulanan
  7. Konsultasi profesional seperti psikolog atau psikiater jika diperlukan

Nah itu dia penjelasan tentang doom spending sebagai perilaku negatif berupa pembelian barang secara berlebih yang kerap dilakukan dengan berkedok self reward. 

Meskipun self reward tergolong penting, namun jangan lupakan untuk tetap memiliki kontrol dan kebijaksanaan terhadap kondisi finansial dan kesehatan mental agar tidak berdampak panjang kedepannya.

Editor : Imron Arlado
#doom spending #Stress #kecemasan #teknologi #fomo #hutang #keuangan