Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sering Dijadikan sebagai Pandangan Hidup Terbaik, Ternyata Berikut Dampak Negatif Stoicism!

Eki Septian Tri Wulansari • Minggu, 29 Juni 2025 | 23:48 WIB
Sering Dijadikan sebagai Pandangan Hidup Terbaik, Ternyata Berikut Dampak Negatif Stoicism! (sumber : Freepik)
Sering Dijadikan sebagai Pandangan Hidup Terbaik, Ternyata Berikut Dampak Negatif Stoicism! (sumber : Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Stoicism adalah ajaran filsafat yang masih populer dan konon menjadi pandangan hidup yang sedang diikuti oleh banyak generasi muda saat ini.

Stoicism berkaitan dengan nilai moral dan ketenangan pikiran dalam menjalani kehidupan. Pemikiran ini dikenalkan sejak abad ke-3 masehi di Athena, Yunani. Berasal dari Citium, Zeno adalah tokoh dibalik ajaran stoic.

Stoicism berisikan tentang perhatian pada kehidupan dengan tanpa mengkhawatirkan hal-hal yang berada diluar kendali diri, termasuk penerimaan terhadap takdir.

Dalam hal ini, para penganut ajaran stoic berfokus pada pengendalian diri sendiri namun tetap memiliki nilai sosial dan moral soal berpikir yang logis serta peranan kebajikan seperti kejujuran,keberanian, dan keadilan.

Tak ada salahnya untuk mengikuti ajaran stoicism untuk melatih fokus terhadap diri sendiri dan hidup lebih tenang. Namun, ternyata menyelami stoicism terlalu jauh serta kehadiran miskonsepsi soal batasan dari ajaran stoicism juga bisa menimbulkan kesalahpahaman persepsi dan malah akan menimbulkan dampak negatif loh!

Nah, artikel berikut akan membahas dampak negatif akibat kesalahan persepsi soal ajaran stoicism bagi individu yang menjalaninya.

1. Kurangnya empati dan menjadi terlalu kaku

Dalam menjadi stoic, seseorang justru bisa berpikir rasional dan mengendalikan diri atas segala situasi yang tengah terjadi, termasuk berempati terhadap suatu kejadian. 

Baca Juga: Bakal Buka Usaha Toko Sembako dengan Harga Murah

Namun, kesalahan persepsi atas stoicism bisa menimbulkan dampak negatif dengan menganggap hal itu bukanlah urusannya sehingga kurangnya empati terhadap lingkup sosial dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri.

Tak hanya itu, stoicism akan dianggap membentuk pribadi yang terlalu kaku dalam menjadi individu dan makhluk sosial akibat kesalahpahaman soal ajaran stoicism.

2. Toxic positivity

Stoicism mendorong individu agar menekan emosi negatif, berpikiran positif, dan penerimaan dalam menghadapi permasalahan sulit. 

Hal tersebut bisa menimbulkan dampak negatif apabila terlalu menekan atau bahkan menghilangkan emosi negatif sehingga berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Pengabaian emosi negatif dalam diri seperti marah, kecewa, dan sedih bisa menimbulkan toxic positivity akibat kesalahpahaman ajaran stoicism.

Munculnya toxic positivity juga bisa mendorong individu menyalahkan orang lain atas sebuah permasalahan tanpa intropeksi mendalam dan berfokus pada diri sendiri termasuk soal kesedihan dan kemarahan yang harusnya bisa dikendalikan, bukan dihilangkan.

3. Isolasi sosial

Stoicism memanglah ajaran yang menekankan tentang fokus pada pengendalian diri. Namun, dalam stoicism tak hanya tentang diri sendiri, keterlibatan masyarakat atau individu lainnya juga turut menjadi perhatian.

Keterhubungan dengan individu lainnya adalah salah satu cara untuk menciptakan keserasian dan harmoni dalam memerankan kebajikan dalam kehidupan.

Baca Juga: Sempat Terdengar Ledakan, Kantor DPUPR Perakim Kota Mojokerto Mendadak Terbakar  

Prinsip stoicism bisa membuat seseorang mengisolasi diri secara sosial karena kesalahpahaman persepsi yang menilai penarikan diri adalah hal yang perlu dilakukan untuk lebih berfokus pada diri.

Padahal kenyataannya, pengendalian diri bukanlah soal menghindari sosial, melainkan tetap bijaksana, memahami, dan peduli terhadap orang lain untuk mendorong aspek positif seperti kebaikan bersama.

4. Pasrah terhadap takdir

Menerima takdir tidak sama dengan memasrahkan diri terhadap takdir. Pasalnya, terkadang penerimaan dalam stoicism sering disalah artikan sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah dan manusia hanya selalu pasrah pada takdir.

Stoicism berisikan tentang kepercayaan pada alam dan takdir. Meski begitu, stoicism juga berkutat dengan kehendak bebas diri manusia untuk memunculkan reaksi dan tindakan atas permasalahan yang terjadi.

Berfokus pada hal yang bisa dikendalikan dan kehendak bebas inilah seorang penganut stoicism bisa mengaplikasikannya dengan bijaksana dan terus bergerak maju.

Itulah beberapa dampak negatif dalam aliran stoicism. Sejatinya, dampak negatif stoicism adalah soal kesalahpahaman konsepsi atau sempitnya penafsiran dalam memahaminya.

Penerapan stoicism dengan tepat justru menghadirkan kedamaian, kebajikan dalam hidup, dan memiliki pengendalian diri yang baik.

Editor : Imron Arlado
#kedamaian #dampak negatif stoicism #aliran filsafat #empati #Prinsip #isolasi sosial #toxic positivity #Individu