JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh dapat berpengaruh pada kepercayaan hingga kondisi mental seseorang yang menjadi faktor pemicu munculnya rasa trauma.
Trauma yang terus menghantui dapat memengaruhi tindakan tanpa disadari, gangguan stres pasca-trauma merupakan suatu hal yang tidak dapat disembuhkan secara total.
Sama halnya dengan terapi trauma dalam psikolog yang bertujuan untuk memperbaiki emosi, pola pikir, serta perilaku akibat traumatis dan bukan untuk menghapus semua ingatan buruknya.
Meski begitu, tanda-tanda seseorang yang mengalami gangguan trauma jarang disadari, terutama jika para perempuan yang kerap lihai dalam menyembunyikan luka atau trauma yang dialaminya.
Meski demikian, terdapat sejumlah tanda, tindakan atau perilaku yang bisa diketahui dari perempuan yang masih menyimpan trauma masa lalunya, diantaranya:
Sulit Percaya dengan Orang Lain
Seseorang wanita yang menyimpan luka maupun trauma masa lalu biasanya akan membentuk benteng pertahanan tinggi untuk melindungi dan waspada terhadap orang baru, terutama dalam memberikan kepercayaan.
Takut Mengalami Pengulangan
Hubungan masa lalu yang menimbulkan luka dan trauma kerap menghantui serta menimbulkan ketakutan terhadap kejadian kelam terulang kembali di masa kini. Ketakutan akan luka di masa lalu akan terulang kembali dapat terwujud dalam hubungan baru hingga berpotensi merusak hubungan.
Reaksi Berlebih pada Hal Sepele
Seseorang yang mengalami gangguan trauma cenderung bereaksi terlalu emosional terhadap suatu kondisi yang sepele, trauma masa lalu dapat menyebabkan seseorang kerap berpikir negatif, cepat kecewa, hingga mudah frustasi.
Analisis Berlebihan
Trauma masa lalu memicu siklus berpikir seseorang menjadi berlebihan hingga membuatnya terjebak dalam lingkaran masa lalu. Pasangan yang menyimpan luka masa lalu cenderung menganalisis kebiasaan maupun tingkah laku pasangan secara berlebihan yang akan membuat pasangannya merasa tidak nyama dan cukup terganggu.
Menyakiti Diri Sendiri
Memendam luka dan emosi secara terus-menerus dapat memicu luapan yang tidak disengaja, hal ini biasanya menyebabkan perilaku kasar, menyakiti, hingga menyinggung orang lain.
DINDA
Editor : Imron Arlado