Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tak Hanya Buruk Bagi Perempuan, Patriarki Ternyata juga Merugikan Laki-laki, Mengapa Begitu?

Eki Septian Tri Wulansari • Minggu, 22 Juni 2025 | 03:47 WIB
Tak Hanya Buruk Bagi Perempuan, Patriarki Ternyata juga Merugikan Laki-laki, Mengapa Begitu? (sumber: Freepik)
Tak Hanya Buruk Bagi Perempuan, Patriarki Ternyata juga Merugikan Laki-laki, Mengapa Begitu? (sumber: Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Patriarki adalah bagian dari sistem sosial yang telah mengakar kuat di masyarakat tentang penindasan perempuan atas kekuasaan laki-laki.

Patriarki menempatkan laki-laki sebagai simbol kekuasaan dan memiliki hak istimewa dari berbagai aspek seperti sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Bukan hanya itu, dalam ranah privat, budaya patriarki telah dianggap lumrah karena stigma masyarakat yang mendefinisikan laki-laki lebih kuat sejak awal.

Tentu saja perempuan banyak dirugikan sejak kemunculan sistem sosial sebelum masehi ini. Diskriminasi gender, kekuasaan, bahkan hingga terjadinya pelecehan adalah dampak buruk yang masih saja menghantui para perempuan atas langgengnya patriarki hingga kini.

Meski begitu, tak hanya perempuan, ternyata laki-laki juga sebenarnya dirugikan dari sistem sosial patriarki. Memiliki kekuasaan lebih tinggi tak membuat laki-laki terus berada dipuncak karena perspektif patriarki sendiri jugalah yang menghadirkan toxic masculinity bagi laki-laki.

Toxic masculinity adalah perspektif buruk terhadap sisi maskulin laki-laki dan bisa berdampak bahaya bagi laki-laki itu sendiri maupun sekitarnya.

Nah, toxic masculinity ini adalah dampak dari kehadiran sistem patriarki bagi laki-laki itu sendiri. Artikel berikut membahas tentang alasan laki-laki juga turut dirugikan dalam sistem sosial patriarki yang mengakar di masyarakat.

1. Stereotipe yang mengekang laki-laki

Laki-laki dalam patriarki ditempatkan pada sisi kekuatan yang sifatnya agung. Otoritas ini terkadang tidak memiliki batasan khusus dimana laki-laki bisa terkekang akibat patriarki itu.

Baca Juga: Gol Tunggal Igor Jesus Sukses Bungkam PSG, Botafogo Unggul di Grup B!

Salah satu bentuk pandangan stereotip yang merugikan bagi laki-laki adalah laki-laki dituntut untuk harus selalu kuat dan dilarang lemah. Kelemahan akan menurunkan sisi maskulinitas dan dianggap tidak layak menjadi laki-laki.

Anggapan ketidaklayakan itu juga yang bisa mempengaruhi ego laki-laki untuk selalu menjadi kuat dan tidak memperdulikan kelemahan yang sebenarnya boleh untuk dirasakan dan diungkapkan.

2. Kesepian

Laki-laki identik dengan kekuatan dan kemandirian dalam menjalani hidup. Maka tak heran jika karena laki-laki yang selalu dinilai kuat ini terkadang merasa kesepian karena tak punya tempat berkeluh kesah atau menyatakan kelemahan pada sekitarnya.

3. Pembatasan emosi dan kesulitan mengekspresikan rasa cinta

Terbiasa dengan sistem tradisional yang kaku, laki-laki memiliki kelemahan dalam mengekspresikan cinta. Terlebih karena hadirnya pembatasan emosi seperti penolakan terhadap perasaan sedih yang tentunya juga merugikan dari sisi laki-laki.

Kesedihan adalah bagian dari kelemahan, dan kelemahan bukanlah bagian dari sistem sosial patriarki.

Oleh karena itu, pembatasan emosi laki-laki dalam menyatakan perasaannya inilah yang membentuk belenggu tersendiri karena ketakutan dianggap lemah.

4. Normalisasi kekerasan 

Kekuatan dalam sistem sosial patriarki membawa pengertian soal kewajaran melakukan kekerasan yang tentunya merugikan pula bagi laki-laki.

Laki-laki lebih cenderung meluapkan emosi marah dan melakukan kekerasan baik secara verbal maupun fisik daripada menunjukkan perasaan sedih, kecewa, dan menangis apabila disakiti. Respon ini bisa terjadi akibat penyebutan peran gender tentang kekuatan dalam diri laki-laki.

Baca Juga: Dikenal sebagai Orang yang Mandiri, Inilah Definisi dan Ciri-Ciri Sigma Personality

5. Karir terbatas

Laki-laki diharuskan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan keluarga. Dalam artian, laki-laki tidak memiliki ruang untuk bersantai dan keluar dari tanggung jawab finansial.

Pembahasan semakin kompleks tatkala mengingat bahwa prospek karir laki-laki juga terbatas akibat pembagian peran gender. 

Laki-laki bisa dianggap sebelah mata atau parahnya tidak diperbolehkan mengambil peran perempuan karena dinilai merusak kekuatan dalam dirinya. Laki-laki bisa dianggap tabu ketika menjadi profesi yang identik dengan perempuan, misalnya menjadi seorang chef atau perawat.

Laki-laki hanya diizinkan untuk menjadi pemimpin dan melakukan pekerjaan kasar yang bisa saja membahayakan bagi dirinya.

Nah itu dia dampak buruk patriarki bagi laki-laki, barangkali mungkin belum disadari atau justru tengah dialami. Meski begitu, saat ini pemahaman soal feminisme (gerakan anti-patriarki) semakin populer di kalangan masyarakat. Wawasan tentang kesetaraan gender juga terus gaungkan oleh para feminist untuk mengikis sistem sosial patriarki yang merugikan bagi laki-laki maupun perempuan.

Editor : Imron Arlado
#merugikan #feminisme #hubungan #kesetaraan gender #sistem sosial #patriarki