Jawa Pos Radar Mojokerto - Suasana di desa lereng Gunung Lewotobi terlihat gelap gulita pascaletusan dahsyat Gunung Lewotobi menyembur area tersebut sore tadi.
Tidak hanya warga desa di lereng gunung yang terdampak. Perasaan takut dan ngeri juga dapat menyelimuti sebagian warga perkotaan karena awan tebal telah melambung jauh dan mulai mendekati wilayah kota
Badan Geologi melaporkan pada Selasa 17 Juni 2025 pukul 17.21 WITA Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali meletus.
Mengutip dari keterangan Badan Geologi, tinggi kolom abu teramati kurang lebih 10.000 meter di atas puncak atau kurang lebih 11.584 meter di atas permukaan laut.
Terdapat juga catatan data kegempaan yang terjadi dari tanggal 16 hingga 17 Juni 2025 pada pukul 14.00 WITA telah terjadi 5 kali gempa embusan, 18 kali tremor nonharmonik, 3 kali gempa low frequency, 3 kali gempa hybrid, 52 kali gempa vulkanik, dan 7 kali gempa tektonik jauh.
Melalui rekaman di seismograf, letusan Gunung Lewotobi dengan amplitudo maksimum 47,3 milimeter dan durasi 6 menit 53 detik. Diketahui erupsi dari letusan tersebut disertai awan panas yang menyembur ke segala arah.
Akibat dari erupsi tersebut, pengamat Gunung Lewotobi Laki-Laki, Yohanes Kolly meminta warga untuk tidak melaukan aktivitas dalam radius 7 kilometer dari puncak kawah dan radius 8 kilometer ke arah barat daya dan timur laut karena status dinaikkan dari level III Siaga menjadi Level IV Awas.
“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mengikuti arahan Pemda flores Timur serta tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya,” ujar Yohanes melalui siaran pers.
Adapun peringatan Yohanes mengenai potensi bahaya lain yang ditimbulkan akibat dari letusan dahsyat Gunung Lewatobi tersebut, yaitu banjir lahar jika hujan mengguyur wilayah aliran sungai berhulu di Gunung Lewatobi.***
Editor : Imron Arlado