RADAR MOJOKERTO - Filsafat bisa dikenal sebagai akar dari segala ilmu karena berisi kajian pertanyaan-pertanyaan kritis,mendasar, dan umum yang dibahas secara mendalam.
Tak hanya soal pengetahuan dunia dan alam semesta, pembelajaran filsafat juga membahas soal ketuhanan.
Tak jarang pembahasan filsafat yang terlalu kritis mengakibatkan kesalahpahaman soal perspektif filsafat dalam mengkaji sebuah permasalahan. Nah, penasaran soal kesalahpahaman umum yang seringkali ditemukan ketika mempelajari atau mendengar kata ‘filsafat’? Berikut penjelasannya
1. Belajar filsafat bikin atheis
Banyak asumsi bahwa belajar filsafat membuat seseorang atheis. Salah paham ini bisa saja terjadi mengingat hakikat filsafat yang kritis terhadap apapun, termasuk soal ketuhanan.
Keragu-raguan dan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ketuhanan inilah yang mengakibatkan banyak spekulasi lahirnya atheisme dalam belajar filsafat.
Pada kenyataannya, belajar filsafat tidak membuat seseorang menjadi atheis karena justru melalui pertanyaan kritis filsafat bisa digunakan untuk lebih memperdalam keyakinan terhadap agama, tergantung pada sudut pandang dan cara seseorang menyikapi filsafat itu sendiri. Selain itu, melalui pemikiran kritis filsafat juga bisa membuat seseorang lebih taat dan bijak terhadap keyakinan dan agama yang diimaninya.
2. Kontroversial
Filsafat bisa dikatakan kontroversial akibat perbedaan dan perdebatan dalam melihat sebuah permasalahan. Setiap pendapat di filsafat tidak memiliki kebenaran mutlak dan didasarkan pada pertimbangan dari banyak aspek sehingga bisa memicu kontroversi.
Namun, kontroversi ini biasanya menimbulkan anggapan atau kesalahpahaman soal filsafat. Pada hakikatnya, kontroversi dalam filsafat tidak selalu dianggap negatif, tergantung pada cara penyikapan individu dan bisa jadi kontroversi ini melahirkan pandangan baru atau kajian yang lebih mendalam terhadap suatu masalah.
3. Permainan bahasa
Dalam filsafat, permainan bahasa atau bisa dikenal juga dengan word gaming, term gaming menjadi salah satu aspek yang sering menimbulkan kesalahpahaman.
Mengapa demikian? Teori milik Wittgenstein yang mulanya digunakan untuk mengatasi kesalahpahaman ini malah terkadang berlaku sebaliknya. Interpretasi dari setiap bahasa yang digunakan bagi setiap orang bisa jadi akan berbeda dan bisa jadi hasilnya tidak valid.
Meski begitu, dalam filsafat, perdebatan soal permainan bahasa ini sebenarnya adalah bagian dari subjektivitas soal pemahaman setiap orang tentang bahasa yang digunakan dan inilah yang justru menjadi kajian lebih kritis dan bernilai positif.
4. Abstrak dan tidak praktis
Filsafat terasa tidak diperlukan ketika hanya menganggapnya menjadi sebuah subjek yang terus menerus dipelajari dalam teori.
Belajar filsafat terdengar abstrak dan tidak praktis sama sekali. Namun tanpa disadari, saat mempelajari filsafat, setiap pertanyaan kritis dan pemecahan masalah itu jugalah yang sering diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Pertanyaan simple seperti “bagaimana definisi kebahagiaan?” atau konsep idealisme individu dalam filsafat dan setiap jawaban kritisnya akan direfleksikan secara langsung dalam kehidupan. Jadi sebenarnya belajar filsafat itu bukan hanya soal teori, melainkan juga praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kronologi Meninggalnya Musisi Gusti Irwan Wibowo, Meninggal Setelah Jatuh di Kamar Mandi
5. Filsafat = dukun
Kesalahpahaman muncul tatkala filsafat dikatakan sebagai ilmu abstrak dengan pembahasan seputar keberadaan, nilai, pengetahuan, yang sifatnya tidak nyata atau hanya ada dipikiran.
Ilmu filsafat dengan perdukunan yang sama-sama dianggap tidak terlihat atau supranatural inilah yang menaikkan anggapan bahwa filsafat disebut ilmu perdukunan.
Namun itu semua adalah bagian dari kesalahpahaman persepsi soal filsafat karena justru filsafat banyak mengajarkan soal berpikir kritis dan logis dalam mengatasi setiap permasalahan yang ada.
Nah, itu dia beberapa ragam kesalahpahaman dalam mempelajari filsafat. Tertarik mempelajari filsafat lebih lanjut?
Editor : Imron Arlado