JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era modern dalam perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, istilah-istilah baru yang sebelumnya tidak ada, kini semakin banyak bermunculan.
Salah satu istilah yang ramai digunakan beberapa waktu lalu adalah ‘dry text’, istilah yang kerap digunakan warganet terutama di kalangan anak muda.
Istilah ‘dry text’ merujuk pada gaya berkomunikasi yang singkat, padat, kurang ekspresif dan terkesan dingin.
Kondisi ini terjadi ketika kita sudah mengirim pesan panjang lebar, tetapi mendapat jawaban yang singkat, sehingga seseorang yang mengirim ‘dry text’ terkesan seperti tidak ingin melanjutkan percakapan dengan mengirim dry text atau berusaha mematikan topik.
Istilah ‘dry text’ sendiri tentu cukup familiar di kalangan pengguna media sosial, dry text sering kali membuat suasana percakapan terasa membosankan dan hambar.
Dry Text
Istilah ‘dry text’ menggambarkan pesan yang berisi jawaban singkat, kaku, terasa hambar dan kurang ekspresif. Pesan ini biasanya terdiri dari balasan satu maupun dua kata, seperti “Ya”, “Oke”, “Hm”, “Haha”, dan sebagainya.
Dry text juga digambarkan sebagai kalimat atau jawaban yang langsung to the point, sering kali tidak menggunakan tambahan emoji yang membuatnya terkesan datar.
Namun, bagi sebagian orang yang cukup sensitif, dry text menjadi indikasi balasan yang menggambarkan ketidaktarikan seseorang dalam berkomunikasi atau topik pembahasan.
Sehingga sebagian orang ada yang merasa kesal atau tersinggung jika ia mendapat jawaban pesan yang singkat (dry text).
Faktor Penyebab Seseorang Melakukan Dry Text
Seseorang yang melakukan ‘dry text’ bukan melulu tidak tertarik dengan topik pembahasan atau lawan bicaranya. Bisa jadi mereka tengah berada dalam tekanan waktu atau sibuk yang membuat dirinya tanpa sengaja mengirim pesan dry text.
Seseorang yang tengah sibuk bekerja atau tengah melakukan aktivitas padat dan menyempatkan untuk membalas pesan, mereka akan cenderung membalas cepat, sehingga jawaban yang diberikan seadanya dan kerap menggunakan jawaban yang singkat.
Pasalnya, mereka tidak memiliki banyak waktu untuk terlibat dalam percakapan yang panjang. Tekanan waktu untuk merespon pesan dengan cepat menjadi penyebab utama dry text.
Selain itu, terdapat juga beberapa orang menggunakan kata-kata formal, namun gaya yang digunakan terlalu kaku, sehingga terkesan seperti dry text.
Biasanya terdapat perbedaan gaya berkomunikasi antara satu orang dengan orang yang lain. Sebagian ada yang suka menyampaikan pesan secara singkat dan jelas, sementara yang lain lebih berekspresif dan suka dengan penjelasan yang lebih detail.
Cara Mengurangi Dry Text
Jika kamu termasuk dalam golongan orang yang lebih suka dengan penyampaian pesan yang singkat atau dry text, lakukan hal berikut untuk memperbaiki kualitas komunikasi kamu menjadi lebih hidup.
- Perhatikan gaya komunikasi yang digunakan lawan bicara
- Berikan pesan atau jawaban dengan ekspresif
- Gunakan emoji untuk menunjukkan ekspresi
- Gunakan pertanyaan terbuka
- Beri sedikit humor dalam pesan
DINDA
Editor : Imron Arlado