JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Hampir tiap tahun, film bioskop Indonesia sering dihiasi dengan genre horor ketimbang genre lainnya seperti komedi, romantis, spiritual, dan lain sebagainya.
Meski banyak genre dalam film Indonesia, nyatanya film horor masih mendominasi layar lebar Indonesia.
Dalam film horor pun kisah-kisah mistis dan misterius sering diadaptasi dengan budaya-budaya lokal yang masih banyak dipercayai banyak orang.
Seringkali, film horor identik dengan latar belakang budaya Jawa karena di Indonesia khususnya pulau Jawa kaya akan budayanya.
Sejatinya, Jawa memang menjadi pusat budaya dan mitos horor di Indonesia, sehingga banyak film horor mengangkat tema-tema khas Jawa.
Sehingga budaya Jawa terkesan begitu dominan dalam dunia horor Indonesia dan memberikan suasana yang cocok untuk film horor.
Untuk lebih jelasnya, berikut 5 alasan film horor Indonesia identik dengan budaya Jawa.
1. Sakral dan Mistis
Di Jawa, budaya dan tradisi masih sangat sakral dan mistis. Budaya Jawa memiliki tradisi spiritual yang kuat seperti tempat atau benda keramat.
Banyaknya tempat yang berbau horor seperti sakral dan mistis sehingga sering dijadikan setting film. Hal tersebut seperti rumah-rumah tua di Jawa dengan nuansa gelap dan klasik lalu ada hutan, sungai, atau makam keramat.
Tempat-tempat tersebut atau benda-benda lainnya yang sakral dan juga mistis, memiliki misteri yang kuat sehingga sering ditampilkan dalam film horor untuk menciptakan suasana yang menyeramkan dan magis.
2. Masih Percaya Hal-hal Ghaib
Percaya terhadap hal-hal ghaib dalam budaya Jawa masih cukup kuat di kalangan sebagian masyarakat.
Meski yang menonton dari kalangan muda yang lebih berpikir secara modern, film horor tersebut masih menjadi film dengan popularitas tinggi.
Kepercayaan terhadap hal ghaib ini seperti percaya adanya jin, lelembut, genderuwo, tuyul, dan dedemit terutama di tempat-tempat yang dianggap angker seperti hutan, sungai, atau bangunan tua.
Selain ini percaya pada ilmu santet atau pelet yang biasanya digunakan untuk mencelakai orang atau memengaruhi pikiran seseorang.
Hal tersebut menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ketika diadaptasi ke dalam film layar lebar
3. Jawa yang Merupakan Mayoritas
Budaya Jawa memiliki banyak cerita mistis yang sudah turun-temurun. Mitos-mitos yang sudah melekat di masyarakat tersebut membuat film horor jadi lebih nyambung dengan penonton.
Selain itu, banyak penulis dan industri film horor yang berasal dari Jakarta dan Jawa yang lebih mudah memahami budaya Jawa karena lokasinya yang dekat.
Film horor dengan nuansa Jawa juga lebih mudah diterima dan laris di pasaran Karena populasi Jawa yang besar.
4. Kaya akan Mitos yang Melegenda
Budaya Jawa kaya akan mitos yang sudah melegenda yang membuatnya menjadi gudang cerita bagi film horor Indonesia.
Cerita-cerita seperti Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, dan Wewe Gombel bukan sekadar dongeng belaka, tetapi juga dipercaya sebagai pengalaman nyata oleh banyak orang.
Legenda horor Jawa banyak yang berasal dari kisah sejarah atau tragedi yang membuatnya lebih seram karena ada unsur kebenarannya. Dan mitos-mitos tersebut menjadi bahan cerita populer untuk film horor.
5. Pengaruh Film Horor Sebelumnya
Film horor Indonesia sebelumnya telah menciptakan fondasi kuat yang membuat budaya Jawa menjadi identik dengan genre ini.
Film horor Indonesia yang sukses sebelumnya juga sering menggunakan tema-tema Jawa. Dari film horor jawa menjadikan Kuntilanak, Pocong, dan Genderuwo sebagai ikon horor nasional.
Mitos Jawa dipakai karena sudah familiar sehingga sukses dan populer di kalangan penonton. Karena sukses, produser buat lebih banyak horor Jawa.
Namun, dominasi budaya Jawa dalam film horor Indonesia, sehingga penonton makin terbiasa dan film horor non-Jawa kurang dilirik.
Contoh film yang bertemakan Jawa adalah KKN di Desa Penari (2022), Sewu Dino (2023), Pengabdi Setan (2017 & 2022), Marni: The Story of Wewe Gombel (2024), dan lainnya. ()
Editor : Imron Arlado