Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Waspada Rabies! Kenali Ciri, Cara Penanganan, Hingga Sejarah Munculnya Vaksin yang Digunakan

Eki Septian Tri Wulansari • Kamis, 1 Mei 2025 | 02:39 WIB
Waspada Rabies! Kenali Ciri, Cara Penanganan, Hingga Sejarah Munculnya Vaksin yang Digunakan
Waspada Rabies! Kenali Ciri, Cara Penanganan, Hingga Sejarah Munculnya Vaksin yang Digunakan

RADAR MOJOKERTO - Rabies merupakan virus berbahaya yang bisa mengakibatkan seseorang meninggal apabila tidak segera ditangani. Virus Lyssavirus menjadi penyebab dari penyakit rabies dan biasanya menjangkit hewan seperti anjing, kera, kucing, rubah, dan hewan liar lainnya.

Virus ini biasa ditularkan ke manusia melalui gigitan hewan yang sudah terkena rabies sebelumnya. Sebenarnya, virus ini telah ada sejak zaman Aristoteles (350M) dan berkembangnya zaman mulai dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi jenis penyakit ini.

Gejala awal pada rabies umumnya serupa dengan gejala flu yaitu demam, lemas, dan sakit kepala. Selain itu, nyeri dan kesemutan di area bekas gigitan hewan juga bisa jadi terasa. Selanjutnya akan muncul gejala psikologis seperti bingung, cemas, atau perubahan mood yang tidak bisa terprediksi.

Gejala lanjutan virus ini akan lebih serius. Jika tidak ditangani, rabies bisa menyebar dan menyebabkan ketakutan terhadap air (hidrofobia), kejang otot (terutama tenggorokan), kesulitan menelan, dan hipersalivasi (air liur berlebih).

 

 

Virus rabies ini memang menyerang bagian saraf otak yang memberi kontrol fungsi menelan, maka tak jarang pasien terkena rabies merasa ketakutan terhadap air dan bisa terkena dehidrasi berat. Bahkan rabies yang tidak ditangani dengan tepat bisa menyebabkan kematian.

Berdasarkan thread media X dari akun @valiisaa menerangkan bahwa penelitian telah dilakukan untuk menemukan solusi dari virus rabies, hingga vaksin rabies pertama kali ditemukan oleh Louis Pasteur yang akhirnya dijuluki Bapak Vaksin Rabies.

Sebelum Pasteur memulai penelitiannya, Pasteur lebih dulu mengenal ilmuwan Perancis bernama Pierre-Victor Galtier yang saat itu mencoba imunisasi domba menggunakan liur anjing rabies.

Penelitian itu menemukan bahwa suntikan malah membuat domba kebal dan tidak sakit. Oleh karena penelitian inilah Pasteur mencoba mencari tahu lebih dalam tentang rabies.

Penelitiannya dimulai sejak 1880 saat penduduk Eropa dihantui oleh virus rabies. Pasteur bersama sang asisten, Emile Roux mulanya mencoba eksperimen mengeringkan sumsum tulang belakang guna melemahkan virus.

Baca Juga: Setelah Diselingkuhi Oleh Suami, Dilan Janiyar Masih Turuti untuk Berikan Uang Rp 800 Juta

Setelah menemukan vaksin yang dirasa cocok, Pasteur melakukan uji coba kepada anjing, kemudian menguji vaksinnya pada manusia, Joseph, bocah berumur 9 tahun, dan vaksin berhasil.

Dari sinilah ketakutan pada virus rabies mereda. Namun seiring berjalannya waktu, tentu ada tantangan dan masalah yang menyebabkan vaksin rabies terus disempurnakan.

Setelah vaksin berhasil ditemukan dan dikenalkan, konsistensi virus awalnya malah meradang dan produksi vaksin susah karena keterbatasan saat itu. Kehadiran Pasteur yang notabene bukan seorang dokter juga menuai kontroversi pada masanya.

Banyaknya perbaikan, salah satunya dari teknologi membuat vaksin lebih aman dan mudah diproduksi sehingga secara kuantitas dan kualitas semakin tepat. Awal abad 20 juga para ilmuwan mulai menggunakan bahan kimia (misal : fenol) untuk mematikan virus agar vaksin lebih stabil.

Kemudian, vaksin modern dikembangkan jadi lebih aman dan efektif daripada sebelumnya. Serum Anti Rabies (SAR) juga biasanya diberikan untuk menetralisir virus di luka bekas gigitan dan diberikan bersamaan saat vaksin rabies.

Nah, ketika terinfeksi rabies, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencuci luka bekas gigitan dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, memberikan antiseptik pada luka, dan selanjutnya segera pergi ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau VAR plus SAR. Kecepatan dan ketepatan penanganan tentunya akan meningkatkan peluang kesembuhan.

 

 

Vaksin rabies ini tentunya menjadi sebuah penemuan hebat. Melalui penelitian Pasteur dan berbagai penyempurnaan, vaksin rabies telah menyelamatkan jutaan nyawa, meski menurut WHO rabies sendiri masih jadi penyakit yang mampu membunuh ribuan orang per tahun.

Rabies di Indonesia pada saat ini juga diketahui masih menjadi masalah, menurut data Kemenkes pada 2023 masih terdapat 31.113 kasus dengan total 11 kematian. Data ini sebenarnya sudah mengalami penurunan setelah pada 2022 kasus rabies mencapai 104.229 dan 102 nyawa tidak dapat diselamatkan. 

Editor : Imron Arlado
#kemenkes #kecemasan #rabies #virus #Obat rabies herbal #vaksin #serum anti rabies #anjing #kematian #Hidrofobia #penelitian