JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2025 ditemukan banyak modus kecurangan yang dilakukan peserta.
Hal ini diungkapkan oleh panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yakni ketua umum tim penanggung jawab SNPMB Eduart Wolok dalam “Konferensi Pers Kecurangan yang Terjadi Selama Pelaksanaan UTBK 2025 Sesi 1 sampai dengan Sesi 4” di Jakarta pada Selasa (29/4/25).
Berdasarkan konferensi tersebut Kasus kecurangan tersebut terjadi pada hari Rabu, 23 April 2025 tercatat ada 9 kasus, kemudian pada Kamis, 24 April 2025 tercatat 5 kasus apabila ditinjau dari peserta yang ikut UTBK. Kasus-kasus tersebut masih terus didalami ditelisik siapa saja yang terlibat dari pihak luar peseta atau pihak internal.
Seleksi yang ketat dan kuat dalam memperebutkan kursi perguruan tinggi membuat para sebagian peserta atau calon mahasiswa melakukan jalan pintas dengan cara curang.
Mereka melakukan cara-cara culas seperti dugaan kecurangan oknum, kamera tersembunyi, joki dan menghalalkan segala cara untuk lulus di kampus impian.
Baca Juga: Fakta Kucing Oren Betina yang Menggemaskan Tapi Langka, Kenali Sifat Hewan Lucu Ini
Mayoritas yang melakukan joki untuk UTBK SNBT 2025 ini adalah peserta yang memilih fakultas kedokteran bahkan mereka siap membayar uang sebesar berapapun.
“Mayoritas pilihan prodi (yang melakukan kecurangan) fakultas kedokteran. Bahkan, ternyata kita dapat informasi, mereka ini membayar sejumlah uang tertentu, uang profesional. Apabila lulus akan ditambah lagi," ungkap Eduart.
Menurut panitia SNPMB Tersebarnya soal di media sosial bukanlah kebocoran soal UTBK, melainkan bentuk kecurangan dari sejumlah peserta yang merekam soal menggunakan alat elektronik terlarang saat mengikuti sesi ujian sebelumnya.
Panitia SNPMB menegaskan bahwa soal UTBK disusun dalam berbagai paket untuk tiap sesi, sehingga tidak ada soal yang diujikan secara berulang. Bahkan, soal pada sesi pagi dan siang di hari yang sama pun dipastikan berbeda.
Selain itu, Panitia SNPMB mengungkap adanya modus baru kecurangan dengan alat bantu tersembunyi seperti kamera yang disematkan di behel gigi, kuku, ikat pinggang, dan kancing, yang luput dari deteksi metal detector.
Modus ini dilakukan untuk memperoleh soal secara tidak sah dan jelas melanggar peraturan. Saat ini, dugaan kecurangan tersebut tengah dalam proses verifikasi dan penyelidikan lebih lanjut dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
Panitia SNPMB juga menyikapi konflik ini, mereka tidak mentoleransi segala bentuk kecurangan dalam pelaksanaan UTBK 2025 karena hal tersebut mencederai prinsip keadilan, integritas, kejujuran yang merupakan dasar seleksi nasional.
“Kita tak akan mentolerir sama sekali ketika kecurangan. Soal ketika tadi ditemukan kecurangan atau tidak, itu otomatis kita diskualifikasi. Dan bisa saja bukan hanya di UTBK, tapi di seluruh sistem penerimaan perguruan tinggi negeri," ungkap Eduart. TASYA
Editor : Imron Arlado