JPRM – Film garapan Joko Anwar, Pengepungan di Bukit Duri, terus menjadi perbincangan warganet di berbagai media sosial sejak tayang perdana pada 17 April 2025.
Berbeda dari karya-karya Joko Anwar sebelumnya yang lekat dengan genre horor dan fiksi, film ke-11 ini lebih fokus menggambarkan realita, seperti konflik antar remaja, permasalahan dalam dunia pendidikan, serta ketegangan sosial yang terjadi di masyarakat.
Sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Joko Anwar secara terbuka mengungkap alasan di balik penggunaan banyak kata kasar dalam dialog para karakter di film Pengepungan di Bukit Duri.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa, penggunaan dari bahasa-bahasa kasar di film Pengepungan di Bukit Duri tersebut semuanya berdasarkan kisah nyata (real life).
Di mana dalam pengerjaan film ini, ia harus meriset secara mendalam dengan cara merekam anak-anak sekolah yang sering nongkrong juga penggunaan bahasa yang mereka gunakan saat ngobrol dengan teman sebayanya.
“Jadi, kita mengadakan riset bagaimana anak-anak sekarang berbicara, probably perbedaan cara mereka berbicara di rumah seperti dengan orang tua mereka dan di lingkungan mereka.” ungkap Joko Anwar.
Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa film ini bertujuan untuk meproyeksikan bagaimana jika anak-anak di tahun 2027 sudah tidak memiliki etika, tidak ada lagi rasa hormat terhadap orang yang lebih tua (guru, orang tua, dan sesama anak muda), maka mereka akan lebih menggunakan bahasa-bahasa kasar seperti itu.
Di samping itu, film ini juga menyoroti isu-isu sosial yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia.
Film yang berlatar masa depan ini, menggambarkan saat Indonesia dalam kondisi sosial yang buruk karena adanya ketimpangan, diskriminasi, dan kekerasan yang merajalela.
“Dengan adanya adegan kekerasan di film Pengepungan di Bukit Duri, kita ingin menunjukkan bahwa kenyataannya seperti itu,” jelas Joko Anwar.
“Kita sekarang tahu budaya kekerasan di kalangan anak muda sangat dianggap normal, walaupun seharusnya tidak boleh dianggap normal.” lanjutnya.
Untuk itu, melalui film Pengepungan di Bukit Duri ini, Joko Anwar ingin menunjukkan supaya semuanya, orang tua, pendidik, para pemimpin bangsa agar bangun karena kita sekarang sedang dalam darurat kekerasan di kalangan anak muda.
“Film ini mengajak kita mencari tahu dan memandang anak-anak yang dianggap melakukan kekerasan, apakah mereka pelaku, apakah mereka korban dan akhirnya mencari tahu akarnya dari mana sih budaya kekerasan ini,”
“Dan kita percaya salah satunya adalah pendidikan, baik pendidikan di rumah maupun pendidikan di sekolah” jelas Joko Anwar.
Editor : Imron Arlado