Pihak yayasan mengklaim, liburan ketujuh santri itu bukan outing class maupun bagian dari kegiatan pondok.
"Intinya mereka ke pantai itu bukan kegiatan pesantren," ujar Jubir Yayasan Ponpes Amanatul Ummah, Affan, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto, Kamis (10/4).
Disinggung soal izin santri keluar dari lingkungan pondok, pihaknya belum bisa bicara banyak.
"Saat ini masih dalam suasana duka dan pencarian. Jadi sementara ini kami fokus pencarian bersama keluarga (korban)," tuturnya.
Ketujuh santri tersebut tinggal dalam satu asrama. Mayoritas kelas 9 MTs. "Mayoritas mereka santri satu tingkatan," kata Affan.
Saat keluar lingkungan pondok pada Selasa (8/4) lalu, ketujuh santri itu baru datang kembali ke pondok. Setelah melakoni masa libur lebaran.
"Ada kedatangan santri setelah masa libur secara bertingkat. Jadi sekarang sudah masuk normal," bebernya.
Affan mengatakan, kini pihaknya bersama perwakilan pondok dan keluarga tiga santri yang belum ditemukan berada di Pantai Balekambang.
Itu untuk mengawal proses operasi search and rescue (SAR). "Kita hadir di sini (lokasi) tentunya sebagai bentuk keprihatinan terhadap para santri," tandas Affan.
Diketahui, Selasa (8/4) lalu, ketujuh santri bertolak menuju Kota Batu menumpangi mobil sewaan.
Sehari berikutnya, Rabu (9/4) siang, mereka tiba di Pantai Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Malang.
Di lokasi, RA, 15, hanya berdiri di tepi pantai sementara keenam rekannya berenang ke laut. Petaka terjadi tak berselang lama usai HS, 15, menepi lebih awal untuk salat.
YAI, 15; MFS; 15; MLM; 15 terseret ombak saat berenang di palung laut. Sedangkan AKR, 16 dan KY, 15 berhasil menepi. Para korban sempat ditolong turis asing asal Jerman, Helena Lindner dan guide wisata Rio Candra Hidayat.
Walaupun ketiga santri kala itu tetap hanyut digulung ombak. Hingga Kamis (10/4) siang, operasi SAR pencarian ketiga santri belum membuahkan hasil. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah