JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Setelah merayakan Idul Fitri pada 31 Maret 2025, masyarakat Jawa kini tengah bersiap menyambut Lebaran Ketupat, sebuah tradisi yang digelar satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal.
Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat bukan sekadar perayaan tambahan, melainkan warisan budaya turun-temurun yang kaya akan makna religius dan sosial.
Tradisi ini masih lestari di berbagai wilayah di Jawa, terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Perayaan ini identik dengan ketupat—nasi yang dimasak dalam anyaman janur—yang menjadi simbol utama. Namun, makna yang terkandung di balik ketupat jauh lebih dalam dari sekadar sajian kuliner.
Lebaran Ketupat diyakini berakar dari ajaran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai bagian dari pendekatan dakwahnya. Istilah “ketupat” berasal dari frasa Jawa ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan spiritual: puasa Ramadhan, shalat Idul Fitri, puasa Syawal, dan silaturahmi).
Bentuk ketupat yang rumit melambangkan kerumitan hidup manusia. Namun, saat dibuka, ketupat memperlihatkan isi nasi putih yang bersih, melambangkan hati yang kembali suci setelah menjalani puasa dan saling memaafkan.
Di banyak daerah Jawa, Lebaran Ketupat dirayakan dengan berbagai cara. Di berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Solo, Demak, Kudus, dan Gresik, Lebaran Ketupat dirayakan dengan berbagai cara.
Mulai dari kenduri masal di masjid atau rumah warga, kirab budaya, hingga tradisi larung sesaji di laut oleh masyarakat pesisir.
Sementara itu, di Mojokerto sendiri, masyarakat biasanya saling bertukar ketupat, lontong, dan lepet — olahan ketan dan kelapa parut yang dibungkus memanjang menggunakan daun kelapa muda — serta sayur lodeh yang berisi potongan tahu, tempe, kulit sapi, dan ayam.
Tradisi ini menjadi momentum silaturahmi lanjutan, terutama bagi mereka yang belum sempat saling berkunjung saat Lebaran.
Tak hanya menjadi sarana spiritual, Lebaran Ketupat juga memperkuat rasa kebersamaan antar warga. Tradisi berbagi ketupat, makan bersama, hingga gotong royong mempersiapkan acara menjadi ajang mempererat solidaritas sosial.
Meski zaman terus berubah dan gaya hidup semakin modern, tradisi Lebaran Ketupat di Jawa tetap hidup dan dirawat.
Masyarakat percaya, warisan budaya seperti ini tak hanya memperkaya identitas daerah, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan nilai-nilai spiritual, sosial, dan budaya yang menyatu, Lebaran Ketupat bukan hanya soal makanan, tapi tentang silaturahmi, identitas, dan keberlanjutan tradisi yang telah hidup ratusan tahun di tanah Jawa. NESTYA
Editor : Imron Arlado