JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan orang yang gemar membicarakan orang lain di belakang mereka. Kebiasaan ini dikenal sebagai gibah dan sering kali dikaitkan dengan karakter seseorang. Bergosip atau menggibah sudah menjadi bagian dari interaksi sosial.
Tidak jarang, kebiasaan ini dikaitkan dengan ciri fisik tertentu. Salah satu kepercayaan yang berkembang di masyarakat adalah bahwa perempuan dengan tahi lalat di dekat bibir cenderung cerewet dan suka membicarakan orang lain.
Namun benarkah ciri fisik bisa menjadi tanda seseorang gemar bergosip? atau justru ada faktor psikologis yang lebih berperan?.
Gibah sering kali dilakukan tanpa disadari. Membicarakan orang lain dinilai biasa menjadi cara seseorang untuk merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri atau menjalin kedekatan dengan orang lain melalui percakapan yang bersifat gosip.
Ciri Fisik yang Dipercaya Masyarakat
Dalam kepercayaan masyarakat,ada beberapa ciri fisik yang sering dikaitkan dengan kebiasaan menggibah. Meskipun ini hanyalah mitos dan belum terbukti secara ilmiah, banyak orang yang masih mempercayainya. Berikut beberapa ciri fisik tersebut:
- Tahi Lalat di Dekat Bibir atau Mulut
Diyakini sebagai tanda bahwa seseorang cenderung cerewet dan banyak bicara, termasuk suka membicarakan orang lain. Mitos ini berkembang dan sering dikaitkan dengan kepribadian yang ekspresif.
- Bibir Tipis
Orang yang memiliki bibir tipis sering dikaitkan dengan sifat cerewet dan kritis. Mereka dianggap cepat dalam berbicara dan terkadang sulit menyimpan rahasia.
- Suara yang Cenderung Nyaring atau Melengking
Orang yang memiliki suara nyaring atau melengking sering dianggap lebih banyak bicara dan lebih ekspresif dalam menyampaikan pendapat. Beberapa orang percaya bahwa mereka lebih suka mengomentari orang lain dibandingkan mereka yang memiliki suara lembut.
- Mata yang Terlihat Tajam
Diyakini orang yang memiliki mata berkilat atau tatapan tajam cenderung lebih penasaran dan gemar mencari tahu urusan orang lain. Mereka sering dikaitkan dengan kebiasaan mengamati dan membicarakan hal-hal yang menarik perhatian mereka.
Pandangan Psikologis Tentang Gibah
Baca Juga: Cicilan Hanya Rp 86 Ribu Saja per Bulan, Inilah Simulasi Tabel Pinjaman KUR BRI 2025
Menurut seorang psikiater berlisensi dr. Julia Breur, orang yang sedang bergosip merasa lebih baik saat mereka bisa menjelek-jelekkan orang lain. Mereka merasakan kesenangan tersendiri, terlebih saat mereka mendapatkan berita itu dari tangan pertama dan dapat menyebarkannya ke orang lain.
Lebih lanjut, dr. Breur menjelaskan bahwa bergosip adalah tanda seseorang mengalami gangguan mental. Mereka cenderung menyebarkan rumor atau gosip yang buruk untuk sebagai bentuk Syukur hal tersebut tidak terjadi pada dirinya.
Saat merasa stress, menyebarkan dan menikmati gosip dinilai bisa mengurangi tekanan hidup yang sedang mereka alami.
Ada istilah “downward social comparisons” dalam ilmu psikologi. Ini adalah cara kecenderungan defense seseorang dalam meningkatkan rasa percaya diri dengan cara membandingkan dirinya dengan mereka lebih buruk darinya.
Meskipun sering dianggap sebagai hal yang lumrah, kebiasaan menggibah dapat membawa dampak buruk, seperti merusak kepercayaan, menciptakan konflik sosial, dan menurunkan citra diri seseorang di lingkungan pergaulan.
Selain itu, terlalu banyak membicarakan orang lain juga bisa mengalihkan fokus dari pengembangan diri sendiri.
Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tentang ciri fisik yang berkaitan dengan kebiasaan berbicara, yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga etika dalam berkomunikasi.
Daripada membicarakan orang lain, lebih baik menggunakan kata-kata untuk hal yang lebih positif dan membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama. NESTY
Editor : Imron Arlado