Di dunia maya, rundown tersebut tersebar melalui media sosial. Tour Itienary itu diberi nama Jogja One Day SMPN 7 Mojokerto oleh pihak travel yakni Mojopahit Tour & Travel.
Kegiatan dimulai pada hari pertama tanggal 27 Januari 2025 pukul 20.00-21.00 berkumpul di tempat penjemputan. Diduga lokasi penjemputan berada di SMPN 7 Mojokerto, Jalan Karyawan No. 4, Kota Mojokerto. Pada pukul 21.00, rombongan tur diberangkatkan ke Yogyakarta.
Pada 28 Januari 2025, rencana perjalanan dijadwalkan pukul 04.00 - 05.00 untuk mandi dan salat subuh. Tetapi, di situ tak disebutkan lokasi untuk mandi dan salat.
Pukul 05.00 hingga 07.30, rombongan tur berada di pantai Drini, Yogyakarta. Sekitar pukul 07.30-08.00 diketahui 13 siswa tenggelam setelah terseret ombak di pantai tersebut. Empat siswa tewas, tiga di antaranya dievakuasi pada saat kejadian. Sedang, satu siswa dievakuasi sehari kemudian.
Adanya kejadian itu, membuat rencana perjalanan berubah 180 derajat. Diketahui, rombongan siswa kelas VII dan VIII tersebut dipulangkan ke Mojokerto pada hari itu juga. Selasa (28/1) sekitar pukul 21.00, ratusan siswa yang diangkut lima bus dan dikawal polisi sampai ke SMPN 7 Mojokerto.
Di rencana perjalanan tersebut, siswa diajak outing class sejak pukul 04.00 hingga 21.30. Selama 17 jam rekreasi itu, sejumlah lokasi pariwisata sedianya dituju. Di antaranya, Pantai Drini, Heha Sky View, Batik Jawon, pusat oleh-oleh, dan Malioboro.
Dalam jadwal tersebut, juga tidak ada jadwal siswa untuk istirahat di penginapan. Lokasi yang dituju kebanyakan bernuansa wisata dibanding nuansa edukasinya. Jadwal terlihat sangat padat untuk kegiatan outing class.
Soal padatnya jadwal perjalanan, Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono memberikan catatan serius. Pj gubernur meminta agar kegiatan outing class dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi siswa agar tidak mengikuti kegiatan yang terlalu padat.
Dan itu, kata dia, kewajiban itu menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya lembaga sekolah, tetapi juga perangkat daerah yang mengampu lembaga pendidikan. ’’Tentu kami sudah minta tidak hanya Mojokerto, tetapi semuanya kita imbau untuk para kepala sekolah dan disdik (dinas pendidikan) untuk bisa memperhatikan hal-hal seperti itu,’’ tuturnya kepada awak media saat kunjungi rumah duka siswa SMPN 7 Mojokerto, Kamis (30/1).
Adhy Karyono menambahkan, tragedi pilu di Pantai Drini diharapkan menjadi pelajaran yang besar bagi semua pihak. Dia menyatakan kejadian duka tersebut merupakan sebuah musibah yang tidak diinginkan bersama. Karena itu, Pj gubernur meminta agar tidak saling menyalahkan dan mengajak semua masyarakat untuk mendoakan para korban.
’’Tentu ada banyak faktor-faktor. Pihak pengelola wisata misalnya yang mungkin keamanannya kurang atau pihak sekolah-panitia itu jadwalnya mungkin terlalu ketat. Tidak bisa kita menyalahkan begitu saja,’’ imbuhnya.
Editor : Fendy Hermansyah