KOTA - Suasana rumah duka Malvein Yusuf Adh Dhuqa, 14, siswa kelas 7 C SMPN 7 Mojokerto di Jalan Al-Azhar, Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, mulai ramai, Selasa (28/1) siang.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menjadi satu satu korban meninggal terseret ombak di Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta.
Puluhan warga berkumpul di kediaman pasangan suami istri Yosep Tri Andreas dan Istiqomah, orang tua Malvein. Para tetangga mulai menata kursi dan tempat sembari menunggu kedatangan jenazah.
"Kami menunggu jenazah dulu nanti baru persiapan di kuburan," kata salah satu warga.
Di tengah keramaian yang memenuhi rumahnya, Istiqomah datang dengan menangis histeris. Perempuan diantarkan mobil Bagian Umum Pemkot Mojokerto dari SMPN 7 di Jalan Karyawan.
Sedari pagi, ibu dengan tiga putra itu mencari kebenaran anak keduanya yang dikabarkan ikut terseret ombak.
Setyo Beni, tetangga korban mengatakan meninggalnya Malvein dipastikan setelah informasi dari pemkot.
Sebab, sebelumnya remaja ini masuk dalam daftar korban meninggal dengan nama Magen Yusuf Adliqo.
"Kata anak saya yang ditemukan pertama kali bajunya," tuturnya. Putri Setyo yang duduk di bangku kelas 8 turut dalam rekreasi ini.
Sejak berita tenggelamnya rombongan pelajar di Pantai Drini, Malvein tak bisa dikontak. Panggilan ke nomor teleponnya tak bersambut.
"Tidak bisa ditelpon bapaknya, bisa nyambung tapi mati, begitu terus," tandasnya. (adi)
Editor : Fendy Hermansyah