Akhir-akhir ini sejumlah destinasi wisata yang viral di media sosial (medsos) menjadi referensi jujukan khalayak luas untuk menikmati liburan.
Baik wisata hiking, glamping, maupun sekadar nongkrong di kafe dengan view alam. Tapi, masih ada kalangan yang memilih tempat wisata yang sesuai kebutuhan dan antiviral. Tujuannya, untuk mengusir stres dan penat dari aktivitas sehari-hari.
Salah satunya seperti yang dilakukan Lintang Budiyanti Prameswari. Warga Perum Permata Ijen, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersati, Kota Mojokerto ini memegang prinsip joy of missing out (Jomo) dalam hal berwisata.
Artinya, menikmati liburan tanpa harus mengikuti tren wisata viral di medsos yang bikin fear off mising out (Fomo) alias ketakutan kehilangan momen. ”Saya lebih senang berwisata pustaka, karena memang senang membaca buku,” ujarnya.
Perpustakaan maupun toko buku independen kerap menjadi jujukannya tanpa mempertimbangkan tempat wisata kininian yang tengah diperbincangkan di medsos. Hal ini, sudah dilakoninya sejak lama.
”Karena sedang kerja di Jakarta, sering datang ke Pasar Santa yang di dalamnya ada Post Santa dan toko buku independen. Karena tempatnya di pasar, habis pilih-pilih buku, bisa langsung sekalian pilih tempat makan,” ungkap perempuan 28 tahun ini.
Destinasi yang biasa jadi jujukannya, lanjut Lintang, bisa membuatnya membaca buku dengan tenang. Sehingga dalam sebulan ia bisa datang dua kali dengan teman yang juga hobi membaca.
”Tempat wisata yang sedang viral itu cenderung ramai dan saya kurang suka (tempat) bising. Jadi, biasanya kalau mau liburan ke tempat viral itu saya tunggu beberapa bulan kemudian baru ikut nyobain,” urainya.
Menurutnya, melakukan hobi membaca di tempat-tempat yang tenang sekaligus melepas stres akan penatnya aktivitas harian. ”Tentu tempat tersebut lebih bisa membuat saya tenang dan menghilangkan stres. Saya biasa menyebutnya "suaka" atau tempat berlindung dari riuhnya pekerjaan sehari-hari,” tandas Lintang. (vad/ris)
Editor : Imron Arlado