JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Gus Baha, seorang ulama Muslim yang dikenal dengan pemikirannya yang mendalam dan cara penyampaian yang menarik, membahas tentang penggunaan Pegon dalam konteks sejarah perjuangan melawan penjajahan di Indonesia.
Pegon adalah sistem penulisan yang menggunakan huruf Arab untuk menerjemahkan bahasa Jawa.
Meskipun terlihat seperti tulisan Arab, Pegon memiliki karakteristik dan tata bahasa yang khas untuk mengekspresikan bahasa lokal.
Ini menjadi alat penting bagi para ulama dan masyarakat dalam menyampaikan ajaran Islam dan budaya mereka.
Pada masa penjajahan Belanda, banyak ulama dan santri yang merasa terancam oleh kebijakan pemerintah kolonial yang berusaha mengendalikan pendidikan dan penyebaran agama.
Penjajah sering kali melakukan pengawasan ketat terhadap literatur keagamaan, sehingga para ulama perlu menemukan cara untuk menyampaikan ajaran mereka tanpa terdeteksi.
Dalam ceramahnya, Gus Baha menjelaskan bagaimana Pegon digunakan sebagai strategi untuk menyembunyikan isi kitab-kitab keagamaan. Dengan menulis dalam Pegon, para ulama dapat :
- Menghindari Pengawasan: Penjajah tidak memahami bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab, sehingga mereka tidak dapat mengetahui isi dari tulisan tersebut.
- Menyebarkan Ajaran Islam: Meskipun dalam kondisi tertekan, para ulama tetap dapat menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat dengan cara yang aman.
- Melestarikan Budaya Lokal: Penggunaan Pegon juga membantu melestarikan bahasa dan budaya Jawa, sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah dominasi asing.
Gus Baha menekankan bahwa taktik penggunaan Pegon tidak hanya sekedar bersifat sementara, namun juga memiliki dampak jangka panjang terhadap pendidikan dan penyebaran Islam di Indonesia.
Hal ini menciptakan tradisi literasi yang kaya di kalangan masyarakat Jawa, di mana banyak karya tulis penting dihasilkan dalam bentuk Pegon. FIA
Editor : Imron Arlado