JPRM - Rencana perubahan kurikulum merdeka di Indonesia semakin ramai diperbincangkan setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mukti membahas perihal penggantian kurikulum tersebut.
Abdul Mukti selaku Mendikdasmen RI, membocorkan bahwa pihaknya akan mengubah Kurikulum Merdeka ke arah yang dikenal dengan istilah Kurikulum Deep Learning.
“Jadi arah pembelajaran ke depan itu mau saya arahkan ke namanya Deep Learning” ujar Abdul Mukti dalam sebuah unggahan video.
Kurikulum Deep Learning dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pendekatan yang lebih mendalam, dan fokus pada keterlibatan aktif peserta didik.
Abdul mukti membeberkan bahwa Kurikulum Deep Learning merupakan teori lama yang sudah diperkenalkan sejak 20 tahun silam, ketika dirinya menempuh pendidikan tinggi di Australia.
Ia ingin siswa di Indonesia dapat diarahkan untuk mendapatkan pelajaran seperti teori yang sudah diterapkan di Australia. Abdul Mukti menilai materi belajar bagi siswa di Indonesia saat ini masih cenderung banyak.
Menurut Mendikdasmen tersebut, kurikulum materi belajar di Indonesia dapat dikurangi, namun tetap mendalam, seperti Kurikulum Deep Learning yang telah diterapkan di Australia sejak 1995.
“Materi pelajaran mungkin ringan, tetapi cara menjelaskannya mendalam. Sehingga guru bisa berimprovisasi dan murid juga bisa berkembang keinginannya,”
Dengan begitu, melalui metode pembelajaran yang membangun pemikiran kritis dan menyenangkan, Kurikulum Deep Learning dianggap dapat membantu siswa dalam memahami materi secara lebih baik.
Abdul Mukti menjelaskan bahwa ada tiga pilar yang menopang pembelajaran dalam menggunakan teori deep learning, yakni Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning.
Mindful Learning, yakni menghargai keunikan dan keterlibatan siswa. Meaningful Learning, yakni pentingnya pembelajaran yang relevan. Joyful Learning, yakni menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.
Kurikulum Deep Learning direncanakan akan diterapkan pada tahun 2025. Namun, Abdul Mukti menekankan bahwa persiapan yang matang sangat diperlukan, terutama dalam hal pelatihan guru, serta penyediaan infrastruktur yang memadai.
Abdul Mukti menekankan bahwa keberhasilan kurikulum baru ini, sangat tergantung pada kesediaan para pendidik untuk beradaptasi dengan pendekatan yang lebih mengutamakan keterlibatan aktif siswa. YULI
Editor : Imron Arlado