JPRM - Pernahkah kamu mengalami tindihan? Saat tertidur nyenyak namun tiba-tiba terbangun namun posisi tubuh sulit digerakkan, sulit berbicara bahkan sulit untuk bernapas.
Seringkali tindihan dikaitkan dengan hal-hal mistis. Bagi kepercayaan Jawa, tindien atau tindihan ini disebabkan karena adanya gangguan dari makhluk halus.
Namun sebenarnya kondisi ini menurut para medis disebut dengan sleep paralysis. Dan kondisi ini memerlukan bantuan medis dan waktu yang cukup untuk mengatasinya.
Terdapat dua jenis sleep paralysis:
1. Hypnopompic Sleep Paralysis
Yakni suatu kondisi yang menyebabkan seseorang tidak bisa menggerakkan tubuh saat terbangun secara tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena otak manusia belum siap mengirim sinyal bangun pada otot, sehingga tubuh seolah tidak bisa digerakkan
2. Hypnagogic Sleep Paralysis
Kondisi ini dialami saat manusia memasuki tahap tidur atau baru saja tertidur lalu terbangun. Pada kondisi ini, tubuh manusia berada pada tahap NERM (non-rapid eye movement) dan mengalami relaksasi otot. Sehingga saat tersadar, sensasi sulit bergerak akan muncul seketika.
Berikut cara mengatasi tindihan atau sleep paralysis:
- Tidur yang Cukup
Kekurangan waktu tidur dapat memicu terjadinya sleep paralysis. Untuk itu, tidur dengan waktu sekitar 7-9 jam per hari dapat mencegah terjadinya sleep paralysis.
Baca Juga: Mengapa Perkawinan Sedarah Berisiko Membuat Anak Cacat saat Lahir? Ini Alasannya
Karena kurun waktu tersebut dianggap ideal bagi keseluruhan tubuh manusia untuk beristirahat.
2. Rutinitas Waktu Tidur yang Konsisten
Memiliki kebiasaan tidur dan bangun pada waktu yang bersamaan dapat mencegah terjadinya sleep paralysis. Rutinitas tersebut dapat mengoptimalkan kinerja tubuh, sehingga merawat jam bilogis pada tubuh.
3. Melakukan Perawatan Lanjutan
Tak jarang dalam mengatasi sleep paralysis membuahkan hasil yang optimal dalam penyembuhannya.
Jika dirasa kurang membaik, segeralah melakukan perawatan lanjutan yang didampingi oleh dokter Spesialis Neurologi. Hasina Aldhea
Editor : Imron Arlado