JAWA POS RADAR MOJOKERTO- Banyak orang berpikir bahwa perilaku menyabotase hanya bisa dilakukan oleh orang lain. Namun pada kenyataannya kamu sendiri dapat menyabotase diri sendiri, dengan sebutan self sabotage.
Tak memungkiri bahwa banyak orang yang tidak menyadari akan perilaku seperti ini.
Apa itu Self Sabotage?
Perilaku self sabotage diri mengacu pada tindakan yang disengaja maupun tidak adanya tindakan, yang menghambat kemajuan seseorang ketika akan mencapai suatu tujuan.
Sabotase diri ini terjadi ketika seseorang menghambat kesuksesannya sendiri, tidak hanya sekedar ini ketika mereka mengambil langkah subversif, maka akan menjadi dampak negatif dari sebagian kehidupan mereka termasuk dalam hubungan dan karir mereka.
Apa Penyebab Perilaku Sabotase Diri?
Dibalik permasalahan di atas apa yang menjadi penyebab mereka mengambil langkah yang salah? penyebabnya adalah pada masa lalu, bisa jadi masalah pada masa kecil atau hubungan yang pernah di lampaui sebelumnya.
Sabotase diri sering digunakan oleh seseorang sebagai mekanisme penanggulangan untuk menghadapi situasi stres dan trauma pada masa lalu.
Tetapi sangat berdampak buruk ketika hal ini sudah berjalan di kehidupan seseorang karena akan membatasi kemampuan seseorang untuk berpikir maju dengan cara yang sehat.
Berikut beberapa pengaruh yang menjadi alasan seseorang menyabotase dirinya sendiri :
- Masa Kecil yang Sulit
Tumbuh dalam keluarga yang tidak pernah support. Hal ini dapat memunculkan tindakan self sabotage, ketika orang tua mengatakan bahwa kita saat dewasa tidak akan tumbuh menjadi orang berhasil atau berguna maka kalian akan merasa sangat pesimis saat itu juga dan peristiwa itu akan terus teringat dalam pikiran kalian hingga sulit untuk disembuhkan.
- Rendah Diri
Orang dengan citra diri negatif rentan akan hal self sabotage. Mereka akan berperilaku menegaskan keyakinan negatif tentang diri mereka sendiri dan ketika ia merasa sedikit berhasil mereka akan menjadikan hal yang tidak nyaman.
- Disonansi Kognitif
Orang yang menunjukan perilaku ini sedang berjuang melawan disonansi kognitif (perilaku yang membuat diri tidak nyaman atau perilaku seseorang yang tidak selaras), hal ini mungkin akan dialami oleh seseorang ketika mengalami dua hal yang bertentangan pada saat bersamaan.
Baca Juga: Pemilik Gigi Gingsul Punya Karakter yang Unik, Mitos atau Fakta?
Contoh, ketika ada seseorang yang menikah dengan orang yang hebat sedangkan kalian dari posisi keluarga disfungsional. Hal ini akan menyebabkan trauma dan bisa jadi anda tidak percaya terhadap pasangan kalian.
Contoh Self Sabotage
- Menunda-nunda
Orang yang sering melakukan self sabotage ini akan sering menunda pekerjaannya dalam hal apapun.
Penundaan ini menjadi cara untuk menunjukan kepada orang lain bahwa kalian tidak pernah siap jika menerima hal yang baik.
Hal tersebut dilakukannya karena terlalu takut akan kegagalan, meskipun kita tidak akan pernah tau hasil dibalik kerja kita kapan akan gagal dan berhasil.
- Perfeksionis
Meskipun tampak seperti hal yang positif untuk menuju sebuah rencana, ternyata faktanya orang yang terlalu perfeksionis juga akan jadi penghambat kesuksesan.
Dan ketika ada suatu kesalahan orang-orang perfeksionis akan selalu merasa menjadi penyebabnya, ujungnya mereka akan merasa malu, rentan terhadap depresi dan merasa menggagalkan semua orang. UMMI
Editor : Imron Arlado