Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Agama Bisa Mencegah Tindakan Bunuh Diri. Relevan atau Skeptis?

Imron Arlado • Minggu, 3 November 2024 | 18:15 WIB
Tindakan bunuh diri pun menjadi penyebab kematian tertinggi dibandingkan dengan kematian akibat peperangan.
Tindakan bunuh diri pun menjadi penyebab kematian tertinggi dibandingkan dengan kematian akibat peperangan.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Jawa Timur menduduki peringkat tertinggi terkait tindakan bunuh diri. Hal ini menjadi perhatian paslon pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur nomor urut 1, Luluk Nur Hamidah dan Lukmanul Khakim.

Jatim menduduki peringkat kedua setelah Jawa Tengah. Di Jatim angka bunuh diri mencapai 184 orang pada 20243 dan Jawa Tengah 356 kasus.

Bunuh diri merupakan puncak rusaknya mental seseorang. Tindakan bunuh diri pun menjadi penyebab kematian tertinggi dibandingkan dengan kematian akibat peperangan. Sebagian orang menganggap bahwa adanya agama dapat mencegah terjadinya bunuh diri. Namun, ada juga yang skeptis tentang hal ini.

Lalu, benarkah relevansi peran agama dapat mencegah tindakan bunuh diri?

Banyak orang yang menjadikan agama sebagai alat untuk menghakimi seseorang atas keputusannya untuk bunuh diri, padahal banyak kasus bunuh diri yang dilatarbelakangi oleh masalah sosial, ekonomi, asmara dan sebagainya, yang mana hal tersebut tidak mutlak disebabkan atas tidak adanya keimanan.

Bahkan, semua orang pun bisa berpotensi bunuh diri, meskipun pada tatarannya mereka hidup di lingkungan dengan kefahaman agama yang baik.

Namun, peran agama memang bisa mencegah tindakan bunuh diri. Seluruh agama di dunia akan menentang tindakan bunuh diri.

Data prevalensi kematian akibat bunuh diri yang dikeluarkan oleh WHO pada 2019 menunjukkan bahwa angka bunuh diri lebih rendah terjadi di negara-negara yang memiliki budaya agama kuat.

Sementara di bekas negara-negara Uni Soviet, negara yang dekat kutub, atau negara miskin di selatan Afrika, prevalensi bunuh dirinya relatif tinggi.

Data tersebut memang tidak bisa dijadikan bukti akurat bahwa agama bisa mencegah bunuh diri.

Namun, orang yang beragama (apapun agamanya), saat berpikir akan melakukan tindakan bunuh diri, mereka akan mempertimbangkan kembali atas apa yang hendak ditindaki.

Hal tersebut menjadi afiliasi bahwa agama dapat melindungi atau mencegah seseorang dari tindakan bunuh diri.

Di sisi lain, agama seperti pisau bermata dua. Agama dapat menjadi proteksi seseorang dari tindakan bunuh diri sekaligus dapat menjadi faktor realisasi bunuh diri karena digunakan untuk menghakimi hidup orang lain.

Alih-alih mendapat empati, orang yang sedang sakit mental justru diserang dengan anggapan tidak punya iman. Hasina Aldhea

 

Editor : Imron Arlado
#bunuh diri #jawa tengah #Jawa Timur #skeptis #Relevan