JAWA POS RADAR MOJOKERTO – KH Ahmad Bahauddin Nursali atau akrab disapa Gus Baha adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an di Kragan, Narukan, Rembang, Jawa Tengah. Ia merupakan sosok ulama yang dikenal sederhana.
Gaya dakwah ahli tafsir ini lugas dan sederhana. Tidak heran kalau sosoknya banyak digemari oleh berbagai kalangan, tak terkecuali anak-anak muda.
Dalam satu kesempatan, ia mengaji tentang Islam Nusantara dan Ahlussunnah.
Gus Baha menjelaskan bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan paham mayoritas dalam Islam yang mengedepankan prinsip-prinsip moderat, toleran dan menghargai perbedaan.
Hal ini menjadi landasan bagi Islam Nusantara, di mana ajaran-ajaran Islam diinterpresentasikan dalam konteks budaya Indonesia.
Gus Baha mengidentifikasi tiga pilar utama dalam pengembangan Islam Nusantara:
- Fikrah (Pemikiran)
Fikrah mencakup cara berpikir dan pendekatan intelektual terhadap ajaran Islam.
Dalam konteks ini, Gus Baha menekankan pentingnya memahami teks-teks agama dengan cara yang kontekstual dan relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia. Ia mendorong agar umat tidak terjebak dalam pemikiran yang sempit.
- Harakah (Gerakan)
Harakah merujuk pada gerakan sosial dan dakwah yang dilakukan oleh umat Islam.
Gus Baha mengajak umat untuk aktif menyebarkan nilai-nilai Islam melalui pendekatan yang ramah.
Hal ini termasuk kegiatan sosial, pendidikan, dan dialog antar agama yang bertujuan untuk membangun kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.
- Amaliyah (Pelaksanaan Ibadah)
Amaliyah berkaitan dengan praktik ibadah sehari-hari. Gus Baha menekankan pentingnya pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan konteks lokal tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
Ia memberikan contoh bagaimana tradisi lokal dapat dipadukan dengan praktik ibadah, seperti perayaan hari besar keagamaan yang melibatkan budaya setempat.
Gus Baha menyoroti pentingnya toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia. Ia berpendapat bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus dirayakan, bukan dijadikan alasan untuk perpecahan.
Dalam hal ini, Islam Nusantara berfungsi sebagai jembatan untuk memperkuat hubungan antar umat beragama.
Dalam ceramahnya, Gus Baha juga membahas tantangan dari ideologi-ideologi lain, seperti Wahabi atau Salafi, yang seringkali memiliki pendekatan yang lebih kaku terhadap ajaran Islam.
Ia mengajak umat untuk tetap berpegang pada prinsip Ahlussunnah Wal Jamaah dan memahami bahwa Islam Nusantara menawarkan jalan tengah yang lebih moderat.
Melalui pembahasan dengan tema Islam Nusantara dan Ahlussunnah, Gus Baha ingin menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan hanya sekedar istilah melainkan sebuah gerakan untuk memperkuat identitas umat Islam Indonesia yang berlandaskan Ahlussunnah Wal Jamaah.
Dengan memahami dan mengamalkan ketiga pilar tersebut, diharapkan umat Islam di Indonesia dapat hidup harmonis dalam keberagaman serta menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat dan toleran. FIA
Editor : Imron Arlado