JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Zimbabwe tercatat sebagai Negara termiskin di dunia. Nilai tukar mata uang di Negara ini sangat memprihatinkan.
Berikut sejarah Negara Zimbabwe yang telah mengalami perjalanan yang kompleks dan penuh perubahan.
Pada tahun 1980, Zimbabwe memperoleh kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Inggris. Setelah perjuangan gerilya selama 15 tahun melawan pasukan nasionalis kulit hitam, perjanjian damai ditandatangani, dan Zimbabwe secara resmi merdeka pada April 1980.
Saat itu, Robert Gabriel Mugabe menjadi perdana menteri dan menyebarkan pesan harapan dan rekonsiliasi.
Setelah merdeka, Zimbabwe muncul sebagai negara yang menjanjikan. Namun, dalam setengah dekade pertama, pemerintahan baru sudah terlibat dalam konflik internal yang dikenal sebagai Gukurahundi.
Selain itu, retorika sosialis dan korupsi mulai menghancurkan ekonomi, dan negara terjerumus ke dalam krisis yang mengharuskannya meminta bantuan dari IMF dan Bank Dunia.
Pada awal abad ke-21, Zimbabwe menghadapi kontroversial Program Reformasi Tanah Fast Track (FTLRP). Tegangan politik mencapai puncaknya, dan pada tahun 2009, terbentuk Pemerintahan Persatuan Nasional (GNU) antara partai penguasa ZANU PF dan partai oposisi MDC.
Meskipun periode 2010–2013 memberikan sedikit lega bagi negara, krisis ekonomi tetap berlanjut. Setelah pemilihan kontroversial pada tahun 2013, ZANU PF kembali berkuasa, dan ekonomi semakin merosot.
Pada tahun 2017, kudeta yang dikenal sebagai “kudeta November” mengakhiri pemerintahan Mugabe dan membawa Emmerson Dambudzo Mnangagwa ke kekuasaan.
Era pasca kudeta ini ditandai oleh drama politik dan tantangan ekonomi yang lebih dalam.
Jadi, sejarah politik Zimbabwe sejak 1980 mencakup perjalanan yang rumit, dari harapan kemerdekaan hingga krisis ekonomi dan perubahan kekuasaan. Semoga ada perbaikan di masa depan untuk rakyat Zimbabwe.
Negara ini telah mengalami perjalanan yang penuh tantangan dan perubahan sejak tahun 1980.
Krisis ekonomi hiperinflasi yang sedang dialami oleh Zimbabwe sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Semuanya dimulai pada tahun 2008.
Pada saat itu, pemerintah Zimbabwe membutuhkan dana yang sangat besar untuk berbagai keperluan, termasuk pembiayaan perang di Republik Demokratik Kongo.
Zimbabwe terlibat dalam konflik di Kongo dan harus menghadapi biaya yang signifikan untuk mendukung pemerintah Republik Demokratik Kongo.
Dampak dari perang dan situasi ekonomi yang memburuk, seperti penurunan ekspor dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, menyebabkan hiperinflasi menjadi tak terkendali pada tahun 2008.
Pada tahun 2008, Zimbabwe mengalami inflasi yang mencapai angka yang sulit dipercaya, 231 juta persen.
Ini berarti harga-harga melonjak dengan sangat cepat, dan perekonomian negara lumpuh. Masyarakat kesulitan membeli bahan-bahan pokok karena gaji mereka tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selama krisis berlangsung, banyak organisasi internasional berusaha membantu Zimbabwe menghadapi situasi yang sulit. Namun, tantangan ekonomi dan politik terus berlanjut hingga saat ini.
Jadi, krisis ekonomi di Zimbabwe memiliki akar yang kompleks, termasuk perang, kebijakan pemerintah, dan faktor-faktor ekonomi. Semoga ada perbaikan di masa depan untuk rakyat Zimbabwe. (-)
Editor : Imron Arlado