Tradisi ini dimulai dari halaman wihara Tantular Sugita Wilwatikta Budhayana Center di Jalan Jokotole pada pagi hari selepas subuh.
Para biksu berjalan tanpa alas kaki mengitari jalan Jokotole-Perumahan Magersari hingga kembali ke wihara, dengan jarak tempuh kurang lebih dua kilometer.
Bante Nyana Sila Terra, pimpinan umat Budha setempat menjelaskan, acara pindapatta dilakukan selepas para biksu melakukan retret selama tiga bulan di Hutan Lorokan Sendi Pacet Mojokerto.
Pada masa tiga bulan itu, para biksu ditempa secara rohani dan menyempurnakan ajaran Budha.
Setelah ritus retret selesai dilakukan, para biksu melaksanakan pindapatta dan dilanjutkan dengan perayaan Kathina.
Saat pindapatta berlangsung, tak hanya umat Budha yang memberi derma.
Pemberian makanan juga diberikan oleh masyarakat sekitar Kelurahan Magersari, baik umat Budha, Islam, Nasrani, dan siapapun yang melihat para biksu tersebut.
Masyarakat tersebut menyiapkan makanan dan memasukkannya ke dalam patta atau mangkuk besar sebagai wadah makanan.
Hasil derma itulah yang nantinya akan digunakan para biksu untuk makan.
Arif, salah satu warga Magersari, menuturkan bahwa upacara keagamaan seperti ini kerap dilakukan di wilayahnya.
"Keberagaman dan kerukunan terlihat di kota kecil Mojokerto," ungkapnya. (fan/fen)
Editor : Fendy Hermansyah