JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Ceramah Gus Baha tentang fenomena banyak orang bodoh justru kaya memberikan pesan-pesan yang relevan untuk kehidupan sehari-hari.
Cerita mulanya dimulai dengan konsep bahwa semua harta dan kemakmuran datang dari Allah.
Gus Baha menekankan bahwa rezeki bukanlah milik kita, melainkan anugerah dari Allah.
Hal ini bertujuan untuk meletakkan hakikat bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan.
Contoh yang digunakan oleh Gus Baha adalah Nabi Musa AS. Meskipun baru lahir dan dianggap bodoh, Nabi Musa dipilih Allah untuk menjadi pemimpin bangsawan Mesir.
Peristiwa-peristiwa dalam hidup Nabi Musa menunjukkan bagaimana seseorang yang dianggap lemah dan bodoh bisa menjadi kuat dan bijaksana melalui proses dan pengalaman hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilannya tidak selalu bergantung pada kondisi fisik atau mental pada saat kelahiran.
Gus Baha juga menegaskan bahwa orang-orang yang sangat pintar dalam bidang akademis atau profesional seringkali kurang paham akan hal-hal spiritual seperti iman dan taqwa.
Mereka yang fokus hanya pada pendidikan formal dan materi cenderung lupa akan aspek-aspek spiritual dan moralitas.
Sebaliknya, mereka yang mendalami ajaran agama serta nilai-nilainya akan lebih siap menghadapi tantangan hidup dan membawa manfaatnya kepada dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Gus Baha menasihati agar kita tidak sombong atas apapun pencapaian kita. Bahkan jika kita telah berhasil dalam karir atau materi, kita harus tetap rendah hati dan bersyukur atas anugerahnya.
Terakhir, ia menekankan pentingnya seimbang antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Artinya, kita harus belajar dan maju dalam kedua bidang tersebut, baik teknologi, ekonomi, politik, maupun filsafat keagamaan tanpa saling mengabaikan satu sama lain.
Dengan demikian, ceramah Gus Baha mengajarkan bahwa kesuksesan bukan semata-mata hasil dari kecerdasan individu tetapi juga dari rahmat dan petunjuk Allah.
Ia juga menekankan pentingnya belajar dan tumbuh dalam segala aspek kehidupan termasuk spiritualitas dan moralitas. FIA
Editor : Imron Arlado