JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Jalaluddin Rumi, yang hidup pada abad ke-13, memiliki pandangan unik tentang kematian.
Bagi Rumi, kematian bukanlah akhir, tetapi justru merupakan jembatan penghubung antara orang yang dicintai dengan Sang Pencipta.
Dalam salah satu bait syairnya, Rumi menyatakan:
’’Saat aku mati: saat kerandaku mulai dibawa keluar, jangan pernah kau berfikir bahwa aku merindukan dunia ini. Aku bukan pergi: Aku telah sampai kepada Cinta Yang Abadi.’’
Dalam pandangan Rumi, kematian adalah momen ketika kita bertemu dengan Allah, kekasih sejati kita. Oleh karena itu, ia merayakan kematian sebagai perjalanan menuju keabadian cinta bersama Sang Maha Pencinta.
Kisah ini juga pernah diceritakan secara detail oleh ulama ternama, Bahaudin Nursalim.
Gus Baha, seorang ulama yang juga dikenal dengan pandangan bijaknya, pernah berbicara tentang Jalaluddin Rumi.
Ketika menjelang kematiannya, Rumi dikatakan berbicara kepada muridnya dengan kata-kata berikut:
’’Janganlah kau berfikir bahwa aku merindukan dunia ini. Ayo semuanya joget. Kalian harus senang-senang.’’
Rumi ingin meninggalkan dunia dengan megah, tanpa air mata atau kesedihan.
Ia menginginkan perjalanan menuju Allah dengan ketenangan dan kebahagiaan.
Gus Baha sendiri mengambil hikmah dari pesan ini dan mengajarkan kita untuk memandang kematian dengan bijak, sebagai pintu menuju keabadian. FIA
Editor : Imron Arlado