Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Benarkah Bahasa Cinta Hanya Sekadar Mitos? Begini Kata Pakarnya

Imron Arlado • Kamis, 10 Oktober 2024 | 23:39 WIB
Love language hanya mitos? Benarkah demikian?
Love language hanya mitos? Benarkah demikian?

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era digital ini, anak muda sudah tak awam dengan istilah love language atau bahasa cinta.

Diperkenalkan Gary Chapman dalam bukunya The Five Love Language, teori ini menyatakan bahwa setiap individu memiliki cara tertentu dalam mengekspresikan dan menerima cinta, yang dibagi menjadi lima kategori: kata-kata afirmasi (word of affirmation), waktu berkualtias (quality time), tindakan pelayanan (act of service), sentuhan fisik (physical touch), dan pemberian hadiah  (giving or receiving gift).

Namun, seiring dengan popularitasnya yang semakin naik, muncul pertanyaan: apakah love language benar benar relevan atau sekadar mitos?

Bahasa cinta sebenarnya berguna untuk mengekspresikan perasaan, tak hanya itu bahasa cinta juga bisa membantu seseorang memahami kepribadian pasangan.

Setiap bahasa cinta mencerminkan kebutuhan emosional dan cara individu berinteraksi dengan lingkungannya.

Misalnya, pasangan yang lebih mengutamakan 'kata-kata afirmasi' cenderung menghargai pengakuan dan validasi, sementara mereka yang lebih menyukai 'waktu berkualitas' sering kali menjunjung tinggi kedekatan dan keintiman.

Dengan memahami bahasa cinta pasangan, individu dapat lebih mengerti apa yang dibutuhkan oleh pasangan serta menemukan cara yang efektif untuk mendukung dan mencintai mereka.

Apa pendapat para pakar melalui penelitian?

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Journal of Social and Personal Relationships menyatakan bahwa tak ada bukti yang konkret mengenai kebenaran tentang teori bahasa cinta.

Penelitian ini juga menemukan fakta bahwa setiap individu tidak memiliki ‘bahasa cinta utama’. Seseorang dapat terhubung dengan kelima bahasa cinta tersebut. Bahkan fakta menariknya, terdapat lebih dari lima macam untuk mengekspresikan cinta mereka.

Meskipun penelitian tersebut tak membenarkan bahwa bahasa cinta benar benar ada, namun banyak orang yang masih mempercayai konsep tersebut.

Mereka bahkan menutup mata bahwa pencetus bahasa cinta, Chapman, bukanlah seorang psikolog, namun pendeta yang biasa memberikan konseling pada pasangan melalui gereja.

Mereka meyakini bahwa dengan adanya bahasa cinta akan membuat komunikasi mereka jauh lebih bermakna yang akan meningkatkan pemahaman kepada masing-masing, bukan suatu kebenaran yang harus mempunyai bukti ilmiah. Aini

 

Editor : Imron Arlado
#anak muda #love language #pasangan #kepribadian #bahasa cinta #era digital