JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sejumlah penelitian membuktikan bahwa ketika seseorang membenci orang lain, akurasi untuk merasa sebaliknya (mencintai) justru tinggi.
Sebagian besar kisah cinta justru bermula dari adanya kebencian. Kebetulan yang seringkali terjadi ini jelas bukan tanpa alasan. Berikut penjelasan tentang benci bisa menjadi cinta dari segi sains.
Sikap membenci adalah sikap yang dilakukan haters, sedangkan haters adalah fans yang tertunda. Hal tersebut dikemukakan karena kegiatan yang dilakukan oleh haters mirip dengan orang yang sedang jatuh cinta.
Seorang peneliti membuktikan reaksi aktif otak manusia ketika melihat foto orang yang ia benci dengan foto orang yang dianggapnya netral. Reaksi otak tersebut kemudian discan dengan MRI.
Lalu, ditemukan bagian otak yang aktif ketika melihat foto yang dia benci, yakni bagian putamen, insula dan juga frontal cortex, yang mana hal tersebut mirip dengan reaksi otak manusia ketika sedang jatuh cinta.
Putamen merupakan bagian yang berfungsi sebagai pengontrol motorik, yang mengatur tubuh untuk bergerak, seperti halnya jatuh cinta, ia berada pada kondisi ingin menjauhi pasangan dengan orang yang juga menyukai dirinya, namun ketika membenci, ia berada pada kondisi ingin menjauhi tindakan jahat orang yang dibenci.
Sedangkan, insula berkaitan dengan persepsi perasaan yang tertekan, yang mana perasaan cinta dan benci bisa merasakan hal tersebut.
Ketika jatuh cinta akan ada perasaan cemburu ketika sedang jauh dengan pasangan, dan ketika benci kamu tidak akan menyukai orang yang kamu benci terlihat berbahagia. Kedua perasaan ini sama-sama membuat tidak nyaman.
Namun, ada satu bagian otak yang membedakan saat seseorang jatuh cinta dan membenci, yakni bagian frontal cortex. Bagian ini akan lebih aktif ketika seseorang dalam situasi membenci dibandingkan dengan jatuh cinta. Frontal cortex ini berhubungan dengan tindakan kritik, berpikir dengan akal sehat dan pengambilan keputusan secara jernih.
Jadi, wajar jika seseorang sedang jatuh cinta, bagian ini menjadi kurang aktif, sehingga sering ditemui seseorang yang jatuh cinta itu hilang akal sehatnya.
Namun, rasa benci juga memiliki sisi positif jika kamu meresponsnya dengan akal sehat. Karena dari membenci atas tindakan orang lain terhadapmu, kamu dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik, hal tersebut juga berkaitan dengan aktifnya bagian frontal cortex.
Sehingga, ketika kamu diremehkan atau direndahkan orang lain, bagian frontal cortex kamu akan bereaksi aktif dan membawa kamu untuk mengimprovisasi diri kamu, jadi ketika kamu sudah berkembang menjadi lebih baik, kebencian kamu akan surut dengan sendirinya dan juga sirkuit otak kamu akan berada di titik netral. Hasina Aldhea
Editor : Imron Arlado