JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Perfeksionis diartikan sebagai keyakinan bahwa seseorang harus menuntut dirinya untuk memiliki standar kesempurnaan yang tinggi dalam segala hal.
Percayalah, kondisi seperti ini sangat melelahkan. Karena untuk mencapai kesempurnaan, orang perfeksionis akan menekan dirinya lebih dalam untuk mampu mencapai standar yang diinginkan. Hal ini juga dapat digolongkan sebagai gangguan obsesif.
Pandangan perfeksionisme ini seringkali membuat orang lain kesulitan untuk menyejajarkan diri sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang perfeksionis.
Hal tersebut tentunya memberatkan orang lain untuk berkolaborasi dengannya, karena tingginya standarisasi yang tidak sama dengan kadar pada umumnya.
Umumnya, pemikiran orang perfeksionis ini jauh melampaui pemikiran rekan-rekannya. Meski begitu, sebenarnya menjadi orang perfeksionis itu melelahkan lho! Serius.
Orang perfeksionis tumbuh menjadi pribadi yang penuh obsesi terhadap ambisi dan tujuan mereka. Prinsip hidup “Kesempurnaan adalah mutlak” menjadikan mereka akan merasa gagal jika sesuatu dikerjakan tidak sempurna.
Karena perasaan gagal atas kurang sempurnanya hasil tersebut, mereka menjadi pribadi yang mudah stress, bahkan cenderung menyalahkan dirinya sendiri secara berlebihan.
Perfeksionis itu sangat melelahkan. Karena tipe ini dapat memengaruhi kesehatan mental.
Sebagai orang yang menuntut keras atas usahanya, mereka beranggapan bahwa untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain, mereka harus menggapai kesempurnaan melalui proses yang begitu melelahkan.
Akibatnya, tidak sedikit orang perfeksionis ini mengalami kegelisahan, depresi atau bahkan sampai melakukan tindakan bunuh diri.
Sering kita jumpai kasus-kasus bunuh diri disebabkan karena kegagalan atau harapan tinggi yang tidak terealisasi.
Sifat perfeksionis dapat menjadi racun bagi diri sendiri. Karena kegagalan yang mengganggu orang perfeksionis akan mengevaluasi dirinya atau sampai menghukum dirinya karena kegagalan tersebut.
Untuk itu, banyak yang setuju dengan anggapan bahwa menjadi perfeksionis itu sangat melelahkan. HASINA ALDHEA
Editor : Imron Arlado