JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kesulitan bersaing, produsen wadah makanan yang sangat populer di Indonesia, Tupperware, tengah menghadapi ancaman kebangkrutan akibat penjualan yang menurun drastis selama bertahun-tahun.
Brand yang identik dan akrab di telinga emak-emak di Indonesia ini gagal dalam menarik konsumen-konsumen muda akibat meningkatnya persaingan.
Sebagai produsen alat rumah tangga, terutama wadah makanan, Tupperware harus bersaing sengit dengan para kompetitor lain yang menjual produknya jauh lebih murah dengan kualitas yang sama.
Tupperware Brand Corporation sendiri merupakan sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Amerika Serikat.
Perusahaan yang menciptakan produk penyimpanan plastik dengan segel kedap udara ini didirikan oleh seorang ahli kimia, Earl S. Tupper pada 1946 di Massachusetts.
Sehingga, keberadaan produk Tupperware ini telah terhitung berdiri selama 78 tahun dan tampaknya akan segera berakhir.
Diketahui bahwa, dalam menciptakan produk Tupperware, Earl Tupper mendapatkan inspirasi ketika membuat cetakan di pabrik plastik.
Sejak berusia 21 tahun, Tupper telah bergabung dengan beberapa perusahaan yang berbasis inovasi dan melakukan berbagai riset.
Dari pengalaman tersebut, ia berhasil menemukan metode untuk memurnikan ampas biji hitam polyethylene (bahan dasar pembuat plastik), hingga menjadi plastik yang kuat, fleksibel, aman, ringan, tidak berbau, dan tidak berminyak.
Pada akhirnya di tahun 1938, Tupper mendirikan usaha plastik di bawah namanya sendiri dengan sebutan Earl S. Tupper Company. Kemudian, Tupper mematenkan produknya dengan nama Poly-T.
Hingga beberapa tahun berselang, Tupper kembali dengan ide terbaiknya yaitu menciptakan wadah yang kedap udara seperti halnya kaleng cat dari plastik untuk menyimpan makanan.
Hal ini sejalan dengan kondisi di Amerika yang pada saat itu sedang mengalami kerugian akibat perang dunia kedua, sehingga ia bisa membantu banyak keluarga untuk menghemat uang dari limbah makanan yang mahal.
Ide tersebut direalisasikan pada tahun 1946, ketika dirinya meluncurkan produk Wonderlier Bowl dan Bell Tumbler dengan brand Tupperware.
Mengingat saat itu banyak keluarga di AS yang perlu menghemat uang dari pemborosan makanan, produk tersebut langsung laris di pasaran.
Namun, kini kepemilikan Tupperware telah terbagi dalam bentuk saham. Sehingga, perusahaan pembuat wadah makanan tersebut telah dimiliki oleh banyak orang atau perusahaan.
Menurut situs Nasdaq, saat ini kurang lebih dari 82 lembaga atau perusahaan yang memegang saham di Tupperware Brand Corporation (TUP). Kepemilikan ini mencakup 23,46% saham perusahaan dengan nilai US$ 6 juta.
Meskipun demikian. kemerosotan penjualan Tupperware yang sangat drastis ini, harus menerima kenyataan dan menyatakan diri bahwa akan segera mengakhiri perjalanan perusahaan.
Sebelumnya, dikabarkan bahwa, perusahaan tersebut saat ini tengah mengalami masalah keuangan hingga membuat sahamnya merosot sangat drastis.
Selama setahun terakhir, saham Tupperware Brands Corp (TUP.N), anjlok hingga mencapai 90 persen dan bahkan, saham perusahaan tersebut kembali turun hampir 50 persen pada Senin, (10/4/2024).
Tupperware disebut tidak memiliki cukup dana untuk membiayai operasional apabila tidak mendapatkan modal tambahan.
Ancaman Tupperware bangkrut semakin melebar, ketika New York Stock Exchange memperingatkan bahwa saham Tupperware akan dihapus dari daftar karena belum menyerahkan laporan tahunan yang wajib dilakukan. (SALSSS)
Editor : Hendra Junaedi