JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Fenomena likuifaksi ditegaskan Pakar gempa Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ).
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Nuraini Rahma Hanifa menjelaskan adanya dua jenis ancaman bahaya dari megathrust, yaitu primer dan sekunder. Menurut Rahma, melumernya bumi masuk dalam ancaman sekunder.
Lalu, bagaimana likuifaksi dalam pandangan Islam? KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menegaskan, likuifaksi bukan isu baru dalam Islam. Karena, dalam kitab suci Umat Muslim ini telah ditegaskan jika bumi akan mengalami kehancuran.
Gus Baha pun menjelaskan surah Al-Mulk ayat 16-18 yang artinya, ’’Sudah merasa amankah kamu dari Zat yang menguasai langit, yaitu (dari bencana) dibenamkannya bumi oleh-Nya bersama kami ketika tiba-tiba ia terguncang?’’
Gus Baha menjelaskan, sejak awal, Allah SWT telah menciptakan bumi dengan segala potensinya, termasuk bencana yang akan menyertainya. ’’Bumi adalah berkarakter pecah. Kenapa pecah? Karena bumi berasal dari potongan-potongan. Saling berdampingan. Kalau berdampingan, berarti berasal dari sel-sel yang berbeda,’’ jelas dia.
Alquran inilah yang membuat banyak ahli sufi ogah membangun rumah. ’’Kenapa orang sufi ketika ditanya, kenapa nggak bangun rumah? Mereka selalu menjawab, tuhan saja mau menghancurin bumi kok,’’ jelasnya.
Tak sampai di situ, Gus Baha kemudian menjelaskan bahwa Alquran juga telah menjelaskan terkait dengan sifat bumi. Salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut adalah Alquran surat At-Thariq ayat 12.
"Dan ketika Allah nyifati bumi, wal ardhi dzati shad'. Shad’un maknanya pecah. Dan Allah tidak sekedar mengatakan pecah, dzati shad’un, sifat dasar bumi itu mudah pecah," tutur Gus Baha.
Ulama asal Rembang, Jawa Tengah itu kemudian menjelaskan rencana Allah sejak awal menciptakan bumi. ’’Karena memang sejak awal, sudah dipersiapkan untuk dihancurin. Makanya, kalau ingin menghentikan penghancuran, tidak bisa,’’ bebernya.
Menurut Gus Baha, meskipun tidak secara spesifik melakukan penelitian sebagaimana ahli, akan tetapi Alquran sudah mengatakan itu.
"Kenapa mudah pecah, karena bumi itu dari lempengan-lempengan. Di Quran juga dijelaskan begitu, wal ardhi qitha’un mutajawirat. Bumi yang kelihatannya satu, sebetulnya dari qith'ah, dari potongan," lanjut Gus Baha.
"Lah Alquran itu bilang bumi itu mutajawirah, bumi ini karakter per potongannya beda-beda, sehingga memang potensinya bumi ini hancur. Apalagi dari awal dipersiapkan memang mau dihancurin, makanya nggak usah takut kiamat, karena rencana Tuhan memang mau dihancurin,” pungkasnya.
Editor : Imron Arlado