Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Berada di Zona Gempa Megathrust, 50 Keluarga di Maluku Bangun Rumah di Perbukitan

Imron Arlado • Kamis, 5 September 2024 | 15:09 WIB
50 KK di Maluku bangun rumah di perbukitan (sumber website baronda maluku)
50 KK di Maluku bangun rumah di perbukitan (sumber website baronda maluku)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – 50 Kepala Keluarga ( KK ) di Negeri Tial, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, kini tengah mengungsi ke Kawasan perbukitan di hutan Dusun Hatuwe.

Mereka mengungsi sebagai bentuk untuk melindungi diri mereka dari dampak gempa megathrust di Laut Banda Maluku. Hal ini mengingat mereka tinggal di dekat pesisir yang bisa saja terjadi tsunami imbas dari terjadinya gempa megathrust.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) beberapa waktu lalu memberikan pernyataan terkait zona megathrust yang ada di Indonesia. Wilayah Maluku merupakan salah satu wilayah zona megathrust.

Baca Juga: Pelantikan Pimpinan Dewan Tunggu Rekomendasi PDIP dan PKB

Zona megathrust tersebut berada di Laut Banda Selatan dan Laut Banda Utara. Megathrust Laut Banda Selatan, diketahui memiliki kekuatan paling besar mencapai magnitudo 7,8, sedangkan Megathrust Laut Banda Utara memiliki kekuatan paling besar bisa mencapai magnitudo 7,9.

Hal itulah yang membuat warga di Maluku merasa khawatir akan gempa megathrust yang akan datang. Tidak ada yang tahu kapan pastinya, BMKG hanya mengatakan bahwa gempa megathrust hanya tinggal menunggu waktu.

“Setelah mendengar berita dari BMKG, kita sebagai masyarakat wajib untuk mewaspadai. Kita sudah trauma dengan peristiwa gempa Maluku 2019,” kata salah satu warga, Wa Ode Bania, dikutip di laman kumparan, Selasa (3/9/2024).

Pada 2019 kala itu, memang terjadi dua gempa besar yang mengguncang wilayah tersebut hingga muncul potensi tsunami.

Wa Ode menyebut, manusia tidak bisa memastikan kapan gempa datang karena kuasa dari Tuhan. Namun, dengan adanya peringatan dari sumber resmi, masyarakat patut untuk mewaspadainya.

“Makanya semenjak kita mendengar kabar dari BMKG pusat, kami masyarakat yang ada di sini lalu mendirikan tenda-tenda di pegunungan Dusun Hatuwe,” ucapnya.

Wa Ode mengatakan bahwa tenda dibangun di wilayah perbukitan sebagai tempat beristirahat di malam hari. Bangunan ditempatkan untuk para lansia dan anak-anak jika memang gempa itu terjadi.

Arju Tuarita, selaku warga Negeri Tial juga mengatakan bahwa banyak warga yang membangun rumah di kawasan lebih tinggi setelah mendengar informasi terkait terjadinya gempa megathrust di Indonesia termasuk Laut Banda.

"Apalagi kita kan tinggal di pesisir yang sangat dekat dengan pantai. Jadi ketika mendengar peringatan itu, beta (saya) disuruh oleh mama untuk bangun rumah seadanya di kawasan perbukitan," ungkapnya.

Arju bercerita bahwa ibunya sampai kepikiran terkait gempa megathrust yang sekarang tengah beredar di Masyarakat. "Mama sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak. Maunya cepat buat rumah di gunung agar di waktu malam bisa tidur di sana," lanjutnya.

Hal tersebut, para warga berharap, agar pemerintah bisa menyediakan air bersih ke lokasi tempat tinggal sementara warga serta membutuhkan penjelasan resmi dari BMKG agar masyarakat tidak khawatir terus-menerus. Nailul

 

Editor : Imron Arlado
#gempa megathrust #Salahutu #maluku tengah #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #Laut Banda #BMKG