Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

55 Desa di Cilacap Rawan Tsunami saat Terjadi Gempa Megathrust

Imron Arlado • Rabu, 4 September 2024 | 04:40 WIB
ANTISIPASI: Ancaman gempa besar yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia mewajibkan masyarakat untuk melakukan antisipasi. (BMKG)
ANTISIPASI: Ancaman gempa besar yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia mewajibkan masyarakat untuk melakukan antisipasi. (BMKG)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Masyarakat Kabupaten Cilacap yang tinggal di sepanjang pesisir pantai saat ini diminta lebih waspada dengan tanda-tanda tsunami yang disebabkan dari gempa megathrust.

Mengetahui rawannya Kabupaten Cilacap terdampak bencana gempa megathrust dengan diikuti tsunami, membuat BPBD setempat gencar lakukan sosialisasi mitigasi bencana.

Rawannya tsunami yang bisa tiba-tiba terjadi di daerah pesisir Cilacap membuat BPBD menyarankan agar warga tidak harus menunggu sirine Early Warning System ( EWS ) untuk segera menyelamatkan diri.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Cilacap Purwanto Kurniawan membagikan tips penting untuk warga saat proses menyelamatkan diri dari bencana gempa bumi dan tsunami.

“Sudah sering kami sosialisasikan, kalau ada gempa bumi besar dan durasinya panjang, segera lari. Istilah kami; gede, dawa, minggato (besar, panjang, atau lama, pergilah), tidak perlu menunggu EWS,” ujarnya.

Kabid tersebut juga menjelaskan apabila dampak dari getaran gempa bumi dapat menyebabkan warga sulit berjalan, maka itu disebut gempa besar. Sedangkan  gempa panjang akan berdurasi lebih dari 10 detik.

Menurut Wawan, sapaannya, informasi dari BMKG mengenai gempa Megathrust yang memiliki potensi diikuti tsunami merupakan peringatan tegas bagi masyarakat yang tinggal di rawan bencana agar lebih waspada.

Sedangkan warga yang tinggal di daerah pesisir Kabupaten Cilacap juga jadi salah satu daerah rawan bencana tersebut.

“Yang disampaikan BMKG kemarin untuk mengingatkan bahwa kita hidup di wilayah rawan tsunami, yang perlu dilakukan kesiapsiagaan masyarakat, salah satunya bagaimana agar aware,” kata Wawan.

Wawan menyebut warga hanya memiliki waktu kurang dari 30 menit untuk menyelamatkan diri ke tempat aman. Bahkan menurutnya, golden time hanya berlaku di 15 sampai 20 menit untuk melarikan diri.

Perlu diketahui bahwa Cilacap memiliki garis pantai kurang lebih dari 201,9 kilometer sehingga terdapat catatan 55 desa yang rawan terdampak tsunami.

55 desa dan kelurahan itu tersebar di 10 kecamatan di antaranya yaitu Kecamatan Patimuan, Kampung Laut, Cilacap Selatan, Cilacap Tengah, Cilacap Utara, Kesugihan, Maos, Adipala, Binangun, dan Kecamatan Nusawungu.

BPBD mengingatkan agar warga yang tinggal di area rawan bencana terutama 55 desa yang dimaksud tersebut peka terhadap tanda-tanda bencana.

“Intinya kita tinggal di wilayah rawan, tidak mungkin pindah semua. Yang kami lakukan penguatan kesiapsiagaan, (misal) kalau dengar sirine jangan santai-santai, segera menyelamatkan diri,” ujar Wawan.

Bagaimanapun juga masyarakat yang tinggal di pesisir tidak akan bisa lepas dari ancaman terdampak bencana tsunami. Namun, upaya mitigasi bencana harus tetap dilaksanakan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. HILMY H

Editor : Imron Arlado
#gempa bumi #early warning system #gempa megathrust #ews #kabupaten cilacap #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #Cilacap Selatan #BMKG