Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Seukuran Pulau Jawa, Inilah Potensi Guncangan Gempa Megathrust di Indonesia

Imron Arlado • Rabu, 4 September 2024 | 00:30 WIB

Bidang megathrust seukuran Pulau Jawa. Getarannya diprediksi sangat dahsyat. (website vsi.esdm.go.id)
Bidang megathrust seukuran Pulau Jawa. Getarannya diprediksi sangat dahsyat. (website vsi.esdm.go.id)
 

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset Inovasi Nasional ( BRIN )  Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan terkait gempa megathrust yang berpotensi mengguncang beberapa wilayah di Indonesia (2/9/2024).

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ), ada berbagai gempa megathrust yang akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Rahma mengatakan, bahwa sebagian besar gempa megathrust dan tsunami terjadi di sepanjang Sumatra, beberapa di Jawa, dan di wilayah Indonesia Timur.

Ada beberapa lokasi yang terlihat kosong, tetapi lokasi kosong tersebut bukan berarti tidak berpotensi tsunami. Bisa saja lokasi tersebut terdapat seismic gap yang artinya sebuah area yang memungkinkan akan terjadinya gempa besar kapan saja.

Maka dari itu, perlunya pemahaman terhadap beberapa wilayah yang rawan bencana gempa agar meningkatkan kewaspadaan serta perlu mitigasi kebencanaan untuk menghindari kerusakan besar.

“Hasil riset yang telah banyak dilakukan dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko gempa. Megathrust beserta potensi gempanya adalah nyata, namun hal ini sebagai bagian dari fenomena alam yang harus dihadapi dengan adaptasi dan mitigasi,” tutur Rahma saat menjadi pembicara pada BRIN Insight Every Friday (BRIEF) edisi ke-128.

Megathrust berarti pahatan naik yang sangat besar. Wilayah Indonesia berada di ring of fire, yang memiliki wilayah luas dan rentan terhadap megathrust.

“Gempa megathrust pertama kali menjadi perhatian utama pada 2011, dengan semakin banyak riset yang dilakukan dan penerapan hasil riset yang berkembang. Upaya untuk menjembatani antara riset dan kebijakan sangat penting untuk membangun mitigasi terhadap megathrust,” ujar Koordinator Kelompok Riset Geohazard Risk & Resilience tersebut.

Berdasarkan peta gempa 2017 yang sedang diperbarui dan diperkirakan selesai pada akhir 2024, lokasi megathrust di Indonesia umumnya terletak di sisi barat Sumatera hingga Selatan Jawa.

“Bidang megathrust ini seukuran Pulau Jawa. Bayangkan jika bergerak 20 meter secara serentak, guncangannya akan sangat besar,” jelas Rahma.

Di selatan Jawa, megathrust terbentang sepanjang 1.000 Km dengan bidang kontak selebar 200 Km, yang menghunjam hingga kedalaman sekitar 60 Km, dan terus mengakumulasi energi yang siap dilepas kapan saja.

“Di bawah Pulau Jawa, terdapat lempeng samudera Indo-Australia yang menghunjam ke bawah selatan Jawa, sedangkan di atasnya ada lempeng kontinental. Pertemuan antara lempeng samudra dan lempeng kontinental inilah yang disebut bidang megathrust,” ungkap Rahma.

Rahma menjelaskan, dalam bencana, terdapat beberapa hal yang bisa dan tidak bisa dikontrol. Risiko bencana adalah fungsi dari bahaya dan kerentanan yang dibagi dengan kapasitas atau kemampuan beradaptasi.

“Kerentanan ini berhubungan dengan eksposur atau pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko bencana dari potensi megathrust, kapasitas adaptasi penduduk harus ditingkatkan. Jika hal ini tidak ditingkatkan, sementara kita sudah tahu akan adanya bencana tetapi tidak mengambil tindakan apa-apa, maka kapasitas kita rendah, dan ini akan meningkatkan risiko bencana,” ujarnya.

Rahma juga menekankan pentingnya untuk pemahaman yang baik tentang megathrust untuk meningkatkan kapasitas adaptasi.

“Ancaman dari megathrust terbagi menjadi ancaman primer seperti guncangan gempa permukaan dan surface rupture. Kemudian ada ancaman sekunder seperti tsunami, longsor, likuifaksi, dan kebakaran,” ujarnya.

“Kita bisa hidup berdampingan dengan fenomena megathrust, dan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kita memang harus hidup bersama dengan megathrust, apalagi kita berada di negara kepulauan,” pungkasnya.

Nailul Hikmah

 

Editor : Imron Arlado
#guncangan gempa #pulau jawa #gempa megathrust #selatan jawa #ring of fire #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #badan riset inovasi nasional #samudera #indonesia timur #lokasi megathrust #Barat Sumatera