JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Desi Dwi Ernanda, 28, korban meninggal dalam karnaval peringatan hari kemerdekaan RI 17 Agustus di Desa Mojolebak, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Minggu (1/9), memiliki riwayat sakit jantung dan diabetes.
Kadar gula darah ibu satu anak itu mencapai dua kali lipat dari batas normal saat diperiksa di UGD Puskesmas Jetis. Desi meninggal dalam perjalanan saat hendak dirujuk ke Rumah Sakit Citra Medika (Ciko), Sidoarjo.
Hal ini dijelaskan Kepala Puskesmas Jetis dr Nurcahyati Akbar Kusuma Wardani. Menurutnya, korban semula dievakuasi dari Balai Desa Mojolebak ke puskesmas menggunakan mobil pribadi milik tetangganya.
Korban lantas mendapat penanganan di ruang UGD dengan oksigenisasi alias pemberian oksigen untuk membantu pernapasan. Petugas juga melakukan pemeriksaan tensi darah dengan palpasi terhadap pasien.
Dari pemeriksaan itu didapati GDA (gula darah normal) pasien lebih dari 300 mililiter per desiliter (ml/dL). ”Tapi pasien masih sadar, dia bilang tidak kuat terus dirujuk,” jelasnya dihubungi Jawa Pos Radar Mojokerto.
Saat perjalanan menuju RC Ciko di Kecamatan Tarik, Sidoarjo, perbatasan dengan Kecamatan Jetis, korban sudah meninggal. Ia dinyatakan death on arrival (DOA) ketika tiba di UGD rumah sakit.
Nurcahyati menyatakan, rekam medis korban menunjukkan jika warga Dusun Ketapang, Desa Mojolebak itu sering kontrol di puskesmas.
Korban yang memiliki kondisi obesitas punya riwayat diabetes dan sakit jantung. Hal ini dibuktikan melalui kadar gula darah korban yang dua kali lipat lebih tinggi dari batas normal, yakni 150 ml/dL.
”Waktu di puskesmas dia didampingi oleh suami, kami sebagai nakes tanya umur segitu kok gula darahnya tinggi, ternyata ada riwayat diabetes,” tuturnya.
Menurutnya, akumulasi akibat aktivitas sebelum karnaval diduga menjadi penyebab korban meninggal.
Selain saat mengikuti karnaval, bisa jadi korban sudah mengalami kelelahan karena kegiatan sebelum pawai tersebut. ”Tidak mungkin hanya karnaval, mungkin sebelum-sebelumnya kurang istirahat, kurang tidur, itu juga memicu naiknya gula darah,” beber dia.
Dari interval karnaval yang berlangsung mulai pagi hingga akhirnya korban mengalami pingsan siang harinya, korban diduga memiliki pola hidup yang kurang bagus.
Hal ini bisa berupa makan dan istirahat yang tak teratur. ”Gula darah tinggi memicu keracunan gula darah ke otak, beliau juga ada riwayat jantung juga. Dan, komplikasi diabet itu kemana-kemana, ke ginjal, ke jantung,” ulasnya. (adi)
Editor : Imron Arlado