Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

23 Desa Pesisir di Bali Berisiko Terdampak Tsunami Akibat Gempa Megathrust, Begini Penjelasan BPBD Jembrana

Imron Arlado • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 00:52 WIB
Pesisir pantai di kawasan Jembrana Bali ini menjadi salah satu lokasi yang terancam gempa megathrust. (radarbali)
Pesisir pantai di kawasan Jembrana Bali ini menjadi salah satu lokasi yang terancam gempa megathrust. (radarbali)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) mengatakan ada 16 zona megathrust yang ada di Indonesia.

Salah satu dari zona megathrust tersebut adalah zona megathrust Bali yang dekat dengan Pulau Bali.

Kekuatan gempa di zona Megathrust Bali bisa mencapai magnitudo 9. Informasi mengenai gempa bumi tersebut juga dapat berpotensi tsunami.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kabupaten Jembrana I Putu Agus Artana Putra, mengingatkan masyarakat harus tetap waspada dan siap menghadapi bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Menurutnya, Pulau Bali rentan terkena guncangan gempa lantaran pulau ini berada di posisi jalur cincin api atau ring of fire. Seperti wilayah Jembrana yang sebagian besar merupakan pesisir.

Pihaknya telah berusaha menyiapkan diri menghadapi risiko bencana. Untuk antisipasi bencana, telah dipersiapkan banyak posko termasuk posko relawan yang ada di puluhan desa pesisir yang berpotensi terdampak tsunami.

"Sudah ada desa tangguh bencana di 8 desa di Jembrana.  Mulai dari Pekutatan hingga Gilimanuk,” ujarnya.

Ia menyebut, ada 23 desa yang berbatasan langsung dengan garis pantai. Wilayah tersebut terletak dari ujung timur, yakni Desa Pengeragoan Kecamatan Pekutatan hingga Kelurahan Gilimanuk di Kecamatan Melaya.

Pihaknya sudah menurunkan tim ke desa-desa terutama di desa pesisir yang memiliki risiko terdampak tsunami paling parah.

Tim dari BPBD Kabupaten Jembrana, sudah mulai turun untuk memberikan sosialisasi dan edukasi ke desa-desa serta menyiapkan sarana keselamatan.

’’Desa Tangguh Bencana sebagai mitigasi dan kesiapsiagaan. Life jacket dan cara evakuasi/penanganan juga sudah diberikan ke masing-masing desa. Jadi jika terjadi bencana kita sudah siap dengan alat keselamatan," jelasnya.

Alat pendeteksi tsunami juga sudah dipasang di wilayah yang paling jauh, seperti Kecamatan Pekutatan, dan Melaya. Pihak BPBD Kabupaten Jembrana  akan terus melakukan simulasi kebencanaan untuk menghadapi bencana termasuk gempa.

Adanya simulasi tersebut, harapannya bisa membantu masyarakat untuk mengetahui strategi dalam menyelamatkan diri Ketika terjadi bencana.

Sudah ada rencana kontingensi di 23 desa tersebut. Pihaknya sudah memetakan masing-masing wilayah termasuk pemasangan rambu petunjuk jalur evakuasi dan titik kumpul untuk evakuasi sementara.

Titik evakuasi juga sudah disiapkan di Pasar Malaya, kantor Bupati, dan sejumlah sekolah di area Gedul Kesenian Bung Karno, Jembrana.

Ia mengatakan, di Jembrana sudah ada regulasi terkait rencana kontingensi bencana tsunami dampak dari gempa bumi. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 13 tahun 2024.

"Renkon juga sudah jadi perbup, kami harap masyarakat terutama di wilayah pesisir untuk bisa melakukan antisipasi, penanganan serta evaluasi juga. Semua sudah masuk dalam Renkon tersebut," ucapnya. Nailul

Editor : Imron Arlado
#Kabupaten Jembrana #badan penanggulangan bencana daerah #bali #gempa megathrust #pulau dewata #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #gilimanuk #BMKG #bpbd