Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Naiknya Biota Laut ke Permukaan Berpotensi Terjadi Gempa Megathrust? Berikut Penjelasan Pakar IPB

Imron Arlado • Jumat, 30 Agustus 2024 | 15:02 WIB
Banyak ditemukan biota laut yang mendadak berimigrasi ke tempat lain.
Banyak ditemukan biota laut yang mendadak berimigrasi ke tempat lain.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Baru-baru ini, media sosial dihebohkan dengan video yang memperlihatkan kemunculan jutaan ikan terbang di malam hari yang terjadi di pesisir pantai selatan Priangan Timur dan Pantai Cipatujah, Jawa Barat.

Fenomena tersebut cukup membuat warga keheranan hingga berspekulasi bahwa hal ini berkaitan dengan tanda-tanda potensi gempa besar atau tsunami. Terlebih, ketika mengetahui wilayah Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang berada di zona subduksi megathrust.

Hal yang sama juga terjadi beberapa waktu lalu, ketika adanya fenomena kemunculan jutaan udang kecil naik ke atas daratan tepatnya di tanggul muara Sungai Taludaa, Gorontalo.

Masyarakat Gorontalo juga menanggapi hal yang sama bahwa, fenomena naiknya udang ke daratan tersebut berkaitan dengan potensi adanya gempa megathrust.

Namun, kedua fenomena tersebut tidak dapat menjadi indikator tunggal untuk membenarkan adanya potensi Gempa Megathrust.

Menanggapi persoalan tersebut, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor ( IPB ), Fredinan Yulianda turut buka suara mengenai isu gempa megathrust yang berhasil menimbulkan rasa khawatir pada masyarakat Indonesia.

Ferdinan mengatakan bahwa, hingga saat ini belum ada indikator kuat yang berkaitan antara gempa megathrust dengan fenomena yang terjadi di Sungai Taludaa, Gorontalo beberapa waktu lalu.

Dosen IPB tersebut, juga mengungkapkan apabila terdapat potensi gempa megathrust, maka bukan hanya udang yang naik ke permukaan, melainkan seluruh makhluk hidup yang berada di laut baik hewan atau tumbuhan akan ikut naik ke daratan.

''Sedangkan gejala gempa atau pergerakan arus bawah seyogyanya akan berdampak tidak hanya udang tetapi dampak fisik akan terjadi pada semua jenis biota laut termasuk jenis ikan, kepiting, jenis udang lainnya,'' kata Ferdinan, dikutip dari keterangan tertulis pada Kamis, (29/8).

Ia juga menambahkan bahwa, hal ini diperlukan pembuktian yang lebih kuat. Dengan melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan secara ilmiah mengenai indikator adanya potensi Megathrust tersebut.

''Perlu kajian ilmiah lebih lanjut yang dapat membuktikan proses-proses ekologi terjadi sesuai dengan fenomena yang sebenarnya," tuturnya.

Sebelumnya, diketahui bahwa Akun resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) telah memberikan peringatan bahwa Indonesia perlu waspada terhadap potensi Gempa Megathrust yang sudah lebih dulu melanda Jepang dengan skala 7,1 Magnitudo hingga menimbulkan tsunami setinggi 31 sentimeter pada 8 Agustus 2024.

Melansir dari BMKG, menunjukkan bahwa hal ini hanya menunggu waktu hingga Megathrust menghantam Indonesia karena zona paling aktif yang memicu adanya Gempa Megathrust ini berada di wilayah Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

"Kami pun tidak tahu kapan akan terjadi. Kami katakan 'menunggu waktu' karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah release (tinggal segmen tersebut yang belum lepas),” tulis Daryono dalam akun X pribadinya @DaryonoBMKG.

Tentunya, peristiwa ini sangat dipantau oleh para ahli geologi dan seismologi, karena dampak dari potensi gempa ini sangat besar, terutama pada keselamatan manusia dan infrastruktur pada daerah yang berpotensi. (SALSSS)

 

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#biota laut #pantai selatan #priangan timur #gempa megathrust #zona subduksi #jawa barat #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #institut pertanian bogor #ipb #BMKG