JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Masyarakat Indonesia tengah dilanda kekhawatiran bakal terjadinya gempa megathrust berkekuatan tinggi.
Hingga saat ini, gempa-gempa yang terjadi menunjukkan kekuatan yang bervariasi, mulai dari skala kecil hingga menengah.
Namun, para ahli dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menegaskan, meskipun disebut hanya tinggal menunggu waktu, munculnya gempa megathrust berkekuatan besar belum dapat dipastikan.
Kepala BMKG Dwikora Karnawati menyatakan, gempa bumi terutama yang bersumber dari zona megathrust, memiliki karakteristik yang kompleks dan sangat sulit diprediksi secara tepat kapan dan di mana akan terjadi.
Hal ini disebabkan oleh banyaknya variabel geologi dan kondisi lempeng bumi yang terus bergerak dan berubah.
BMKG juga menekankan bahwa peringatan yang diumumkan belakangan ini bukanlah "peringatan dini."
Peringatan tersebut muncul karena wilayah di sekitar Zona Megathrust, seperti di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, telah disebut oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Zona ini perlu diwaspadai karena potensi gempa besar dapat muncul sewaktu-waktu.
Peringatan gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut diberikan karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar. Namun, ini tidak berarti gempa besar tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Peringatan diberikan karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah mengalami gempa besar, sementara Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga saat ini belum melepaskan energi besar yang tersimpan.
"Tapi untuk kapan waktunya, sama sekali tidak dapat diramal dan tidak dapat diprediksi," kata Daryono, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Selasa (27/8/2024).
Baca Juga: Waspada Gempa Megathrust, 530 Sensor Deteksi Gempa dan Tsunami telah Terpasang di Seluruh Indonesia
“Persiapan yang perlu dilakukan antara lain mewujudkan upaya mitigasi yang konkret, bukan mitigasi formalistik. Wujudkan nyata bangunan tahan gempa berbasis building code yang merujuk pada sumber gempa maksimum di daerah masing-masing. Wujudkan tata ruang kota dan pantai yang aman berbasis risiko gempa bumi dan tsunami," ujarnya.
Meskipun begitu, BMKG terus memantau aktivitas seismik di berbagai wilayah di Indonesia untuk memberikan peringatan dini dan meminimalisir dampak yang mungkin terjadi. (SAFFA)
Editor : Imron Arlado