JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menyebut Indonesia memiliki beberapa segmen megathrust yang sudah lama tidak aktif. Seperti Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai Siberut.
Megathrust Selat Sunda berada di Samudera Hindia, di Selatan Bengkulu, Lampung, hingga Selatan Jawa Barat.
Zona megathrust tersebut dekat dengan DKI Jakarta dan juga dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Pada mulanya, gunung tersebut muncul dari permukaan laut setelah terjadi letusan Gunung Krakatau 1883. Daerah tersebut diungkapkan bahwa terdapat vulkanik aktif yang letusannya paling dahsyat ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883.
Kekuatan gempa megathrust di Selat Sunda bisa berpotensi magnitudo 8,9. Kombinasi megathrust dan Gunung Anak Krakatau ini bisa menjadi bencana yang sangat besar dan memiliki dampak bencana yang tidak sedikit lagi.
Surono atau Mbah Rono, selaku Ahli Mitigasi Bencana Geologi, mengatakan gempa dengan magnitudo besar sekali pun belum tentu akan membuat gunung api meletus.
Ia mencontohkan gempa Sumatera dengan Magnitudo 9,1 pada 2004 yang memicu tsunami Aceh saja tidak membuat gunung-gunung di Sumatera aktif.
Surono menyebut, gempa bisa membangkitkan erupsi gunung berapi jika memenuhi syarat khusus, seperti kantung magma sudah penuh dan bertekanan tinggi.
"Ada gempa bumi, [aktivitas] gunungnya meningkat, jika kantung fluida magmanya penuh dan bertekanan tinggi. Begitu diganggu dari luar, ada gempa, ya mledos [erupsi]. Kalau kantung fluida tidak penuh, magmanya tidak tekanan tinggi, ada gempa segede apa pun tenang aja dia," kata Surono dalam tayangan youtube.
"Jadi, tidak selalu ada gempa bumi itu gunungnya mesti meletus, bagaimana dulu kondisi kantung magmanya," lanjutnya.
Lembaga Peninjau Geologi AS, United States Geological Survey ( USGS ) menjelaskan, dalam beberapa kasus gempa tektonik memang bisa memicu letusan gunung berapi.
Beberapa gempa bumi regional yang besarnya lebih dari magnitudo 6, dianggap berkaitan dengan letusan berikutnya atau beberapa jenis gejolak di gunung api terdekat.
"Namun, gunung berapi hanya dapat dipicu untuk meletus oleh gempa tektonik di dekatnya jika gunung berapi tersebut sudah siap untuk meletus," jelas USGS.
Lembaga tersebut mengatakan, setidaknya ada dua kondisi yang harus terpenuhi agar gempa dapat memicu letusan gunung api. Pertama, magma yang cukup mudah meletus di dalam sistem gunung berapi. Kedua, tekanan yang signifikan di dalam wilayah penyimpanan magma.
Sementara itu, ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung ( ITB ) Mirzam Abdurrachman, menjelaskan gempa tektonik bisa berpengaruh ke gunung api dengan kondisi tertentu.
Gunung api tersebut dalam keadaan kritis, yang berstatus Siaga atau Awas dengan kondisi peningkatan aktivitas seperti gempa vulkanik, serta peningkatan pelepasan gas maupun letusan-letusan kecil.
Katanya, dalam keadaan kritis, gas yang terlarut ataupun volume magma yang banyak sangan mudah dikeluarkan jika diberi pemantik, seperti halnya gempa bumi.
Ia mencontohkan peristiwa meletusnya Gunung Fuji, Jepang pada 28 Oktober 1707 yang disebabkan oleh gempa tektonik. Saat itu, gempa besar berkekuatan magnitudo 8,6 mengguncang pantai Jepang sepanjang Nakai Megathrust, barat daya Jepang.
"Ini adalah salah satu gempa terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah Jepang yang memakan korban hingga lebih dari 5.000 jiwa. Kekuatan gempa tersebut kekuatannya baru bisa dikalahkan oleh gempa Tohoku pada 2011," jelas Mirzam
Terpisah, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, pada 2019 lalu mengatakan bahwa aktivitas peningkatan vulkanisme memang sensitif dengan guncangan gempa. Menurutnya, secara tektovolkanik aktivitas tektonik memang dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme.
Namun, tidak semua aktivitas tektonik bisa meningkatkan vulkanisme.
Hanya kondisi gunung yang sedang aktif yang bisa meletus akibat pengaruh gempa. Hal tersebut karena kondisi magmanya sedang cair dan kaya produksi gas.
Dalam kondisi seperti itulah gunung api mudah dipicu oleh gempa tektonik. Gempa tektonik dapa meningkatkan stress-strain yang dapat memicu terjadinya erupsi.
Dari penjelasan tersebut perlu adanya kajian yang konkret untuk membuktikan kaitan antara gempa dengan meletusnya gunung api. Nailul
Editor : Imron Arlado