JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) memprediksi gempa megathrust akan melanda Selat Sunda dan Mentawai Siberut.
BMKG beralasan, potensi itu muncul lantaran sudah lama tidak terjadi gempa besar di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai Siberut.
Dikabarkan bahwa ancaman gempa besar di wilayah tersebut dapat mencapai kekuatan dengan magnitudo 8,7 hingga mencapai magnitudo 9 ini kemungkinan bisa saja terjadi kapan saja.
Para ahli juga membenarkan bahwa ada beberapa wilayah yang memang secara teori perlu diwaspadai. Seperti Zona Megathrust di Selat Sunda atau di Mentawai Siberut. Sebab, zona tersebut memiliki wilayah seismic gap artinya kekosongan aktivitas seismik yang cukup lama hingga ratusan tahun.
Diketahui, kekosongan tersebut menimbulkan simpanan energi yang besar dan cukup lama. Jika energi tersebut lepas, maka gempa bumi yang besar akan terjadi hingga berpotensi tsunami yang dahsyat.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengumumkan terkait rencana penambahan alat dan sistem sensor untuk mendeteksi terjadinya gempa dan tsunami.
Dwikorita mengungkapkan, saat ini lebih dari 500 unit alat dan sistem sensor pendeteksi gempa-tsunami telah tersebar di seluruh Indonesia untuk hadapi ancaman Gempa Megathrust. Tentunya hal ini lebih banyak dari sebelum tahun 2019 yang hanya mencapai 176 unit.
’’Khusus megathrust di seluruh Indonesia, kami sebelum 2019, sensor-sensor gempa hanya berjumlah 176. Tetapi, dalam rangka merapatkan sensor tadi, terutama dalam menghadapi megathrust, kami tambah menjadi 500 sensor sejak 2019. Saat ini angkanya sudah 530-an sensor, terutama antara lain untuk menghadapi megathrust tersebut,’’ ungkap Dwikorita, dikutip dari keterangan tertulis pada Rabu, (28/8).
Menurut Dwikorita, BMKG nantinya akan lebih mendahulukan pemasangan alat deteksi dini bencana gempa-tsunami di zona Megathrust Selat Sunda. Hal ini disebabkan karena banyaknya industri dan daerah pariwisata yang berada di wilayah tersebut.
’’Kami justru yang sangat-sangat serius menyiapkan itu Banten dan Selat Sunda karena di situ ada industri dan dampaknya beda dengan lokasi yang tidak ada industri, dan itu industrinya chemical,” ujar Dwikorita.
Dwikorita juga mengatakan bahwa telah terpasang sebanyak 39 seismograf atau alat pencatat gempa bumi di sepanjang Selat Sunda.
’’Total barangkali di Selat Sunda itu melebihi dari yang lain. Seismograf kami pasang 39, sebelumnya tidak sebanyak itu. Sejak tahun 2019 itu 39, sebelumnya mungkin 10 saja enggak ada,” katanya.
Selain itu, Dwikorita telah memastikan bahwa di Selat Sunda sudah terpasang sebanyak 20 akselerograf atau alat untuk merekam guncangan tanah dan sebanyak 22 Automatic Water Level atau tsunami gate yang digunakan untuk mendeteksi kondisi pasang surut air.
Selanjutnya, Dwikorita juga menerangkan mengenai Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System ( EWS ) yang dipasang untuk menanggulangi persoalan bencana gempa megathrust yang berpotensi tsunami di zona megathrust sebagai upaya mitigasi.
''Jadi megathrust itu skenario terburuk, semoga tidak terjadi, tapi terburuk itu seperti Banda Aceh tapi semoga itu tidak terjadi. Insyaallah, kalau kita siap semoga tidak terjadi,'' tutur perempuan berjilbab ini.
Kemudian, Dwikorita mengatakan bahwa pihaknya telah mengadakan sekolah lapang gempa bumi dan tsunami di tujuh lokasi. Hal ini sebagai salah satu upaya dalam mempersiapkan diri untuk selalu siap dan siaga, terutama untuk beberapa wilayah yang termasuk rawan bencana.
Ia menambahkan, gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan hal ini tidak dapat diprediksi dengan pasti kapan terjadinya. Namun, potensi adanya gempa di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan zona lainnya. (SALSSS)
Editor : Imron Arlado