Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dikepung Tiga Zona Gempa Megathrust, Rumah Badak Jawa Terancam

Imron Arlado • Kamis, 29 Agustus 2024 | 01:12 WIB
Rumah Badak Jawa Terancam Gempa Megathrust karena Dikepung Tiga Zona Megathrust
Rumah Badak Jawa Terancam Gempa Megathrust karena Dikepung Tiga Zona Megathrust

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Rumah Badak Jawa ada di Taman Nasional yang terletak di semenanjung paling barat Pulau Jawa di Selat Sunda, memiliki berbagai potensi bencana gempa, yakni aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan Zona Megathrust.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( Pusdatin BNPB ) Abdul Muhari, memberi catatan terpendam bahwa ancaman gempa tektonik akibat megathrust bisa terjadi sewaktu-waktu.

Caption: Pemodelan ketinggian gelombang tsunami terhadap habitat badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Sumber: jurnal “Preventing Global Extinction of the Javan Rhino: Tsunami Risk and Future.
Caption: Pemodelan ketinggian gelombang tsunami terhadap habitat badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Sumber: jurnal “Preventing Global Extinction of the Javan Rhino: Tsunami Risk and Future.

Taman Nasional Ujung Kulon berada di tiga zona megathrust, yakni Megathrust Jawa Barat, Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Enggano.

Pakar Gempa dan Tsunami Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN ), Widjo Kongko, menyebutkan tiga megathrust tersebut memiliki potensi skala gempa sangat besar.

Megathrust Selat Sunda berpotensi magnitudo 8,4, Megathrust Jawa Barat berpotensi magnitudo 8,7, sedangkan Megathrust Enggano mencapai magnitudo 8,7. Masing-masing zona megathrust tersebut dapat berpotensi tsunami.

“Dan tiga megathrust ini berpotensi untuk tsunami bisa lebih dari 10, mungkin sampai 20 meter,” ungkapnya

Ia menjelaskan tinggi tsunami di pesisir Ujung Kulon ditentukan oleh berbagai faktor, seperti panjang patahan, volume air, hingga posisi dan kedalaman titik gempa.  

Widjo melakukan pemodelan tsunami akibat gempa di tiga zona megathrust tersebut. Ia memperkirakan tinggi gelombang tsunami di pantai pesisir Ujung Kulon kisaran 15 hingga 25 meter dengan kekuatan gempa magnitudo 8,7. Namun, skenario terburuk ia mencatat ketinggian gelombang tsunami bisa mencapai 30 meter

Pemodelan tersebut dilakukan dalam jurnal “On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia”.  Jurnal tersebut menyebutkan ketinggian maksimal tsunami akibat gempa megathrust dapat mencapai 35 meter secara merata di selatan Jawa Barat.

Saat ini, populasi Badak Jawa di tahun 2024 diperkirakan sekitar 81 ekor saja. Angka populasi tersebut berdasarkan data terbaru dari Taman Nasional Ujung Kulon ( TNUK ), yang merupakan satu-satunya habitat alami Badak Jawa yang tersisa di dunia.

Jurnal berjudul ‘Preventing Global Extinction of the Javan Rhino: Tsunami Risk and Future Conservation Direction’ yang dipublikasikan Society for Conservation Biology pada 2018, mencatat kepadatan badak 25 persen pada ketinggian rata-rata 7 meter di atas permukaan laut ( MDPL ) atau sekitar 108 meter dari garis pantai.

Baca Juga: Daftar Wilayah yang Alami Gempa Berulang, BMKG Sebut Berpotensi Menjadi Zona Merah Megathrust

50 persen badak berada pada ketinggian rata-rata 9 mdpl atau 412 meter dari garis pantai, sedangkan 75 persen berada pada ketinggian 15 mdpl atau 855 meter dari garis pantai.

Jika terjadi tsunami setinggi 5 meter dapat menggenangi semua area dengan kepadatan badak tertinggi 20 persen, sementara gelombang lebih dari 10 meter dapat menggenangi lebih dari 80 persen area dengan kepadatan badak tertinggi 50 persen.

Namun, apabila tsunami yang terjadi setinggi 30 meter, maka akan menggenangi hampir semua area tempat Badak Jawa.

“Satu prakiraan tsunami menggunakan gempa bumi historis di Selat Sunda menemukan bahwa gempa bumi yang mungkin terjadi akan menyebabkan kenaikan maksimum 11,6 meter di sepanjang garis pantai Taman Nasional Ujung Kulon,” tulis jurnal tersebut.

Widjo pun menjelaskan perendaman akibat tsunami akan berdampak besar bagi satwa ini. Penyusutan habitat Badak Jawa akan terjadi signifikan, berbanding dengan tinggi tsunami. Dari hal tersebut, daerah ini tentunya sudah tidak dapat lagi dihuni oleh satwa.

Ia menekankan, studi gempa dan tsunami dapat dimanfaatkan juga untuk mitigasi satwa dilindungi. “Ini menarik karena tak banyak kajian tsunami di kawasan yang tak dihuni oleh manusia (inhabitant) seperti kawasan konservasi ini,” ucapnya.

Menurutnya, terdapat catatan bahwa beberapa satwa seperti gajah dapat mendeteksi terjadinya gempa dan tsunami.

Tsunami 2006 lalu menewaskan sekitar 500 lebih penduduk di Pulau Mentawai. Kawasan gajah selamat karena menjauh dari pantaii dan menuju pegunungan.

“Pernah ada ide untuk memelihara gajah di Padang untuk mendeteksi tsunami ini. Tapi itu tak dilakukan karena memang belum ada dasar kajian dan dampaknya terhadap gajah itu sendiri kalau dipelihara,” kata Widjo.

Namun, belum ada tanggapan lebih dari Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon sehingga belum tahu pasti bagaimana keadaan atau kondisi tempat satwa Badak Jawa di sana. NAILUL

Editor : Imron Arlado
#gempa bumi #gempa megathrust #mdpl #Zona megathrust #Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana #badak jawa #Pusdatin #TNUK #bnpb #taman nasional #taman nasional ujung kulon #badan riset dan inovasi nasional #brin