JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Persoalan mengenai potensi Gempa Megathrust yang telah diprediksi akan melanda di beberapa wilayah Indonesia hingga kini masih menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menegaskan bahwa informasi potensi Gempa Megathrust ini bukan hanya sebuah prediksi atau peringatan dini belaka, melainkan mitigasi yang diupayakan.
Melansir dari catatan BMKG, menunjukkan bahwa zona paling aktif yang memicu adanya Gempa Megathrust ini berada di wilayah Samudera Hindia tepatnya di selatan Pulau Jawa, yaitu meliputi Segmen Banten-Selat Sunda, Segmen Jawa Tengah-Jawa Barat, dan Segmen Jawa Timur.
Tentunya, peristiwa ini sangat dipantau oleh para ahli geologi dan seismologi, karena dampak dari potensi gempa ini sangat besar, terutama pada keselamatan manusia dan infrastruktur pada daerah yang berpotensi.
Rupanya, Pemkot Surabaya pun telah menanggapi permasalahan tersebut dengan melakukan mitigasi dan sosialisasi Gempa Megathrust di wilayahnya. Terlebih ketika mengetahui bahwa Surabaya menjadi lokasi sesar atau patahan lapisan penyusun bumi yang memicu gempa bumi ketika terjadi pergerakan.
Eri Cahyadi, selaku Wali Kota Surabaya mengatakan bahwa edukasi mengenai kebencanaan telah rutin dilakukan melalui simulasi bencana yang diadakan di lingkungan pendidikan, kesehatan, perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen, dan perkampungan masyarakat.
Selain itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya, Yanu Mardianto juga mengemukakan akan membentuk Kelurahan Tangguh Bencana sebagai upaya mengantisipasi dan menanggulangi bencana.
Pada Senin (19/8), Yanu menjelaskan bahwa telah melakukan sosialisasi dan simulasi di 153 kelurahan terkait Kelurahan Tangguh Bencana, sehingga dalam setiap kelurahan sudah ada perwakilan yang dilatih mengenai edukasi kebencanaan, terutama gempa bumi.
Nantinya, mereka akan menjadi pionir di lingkup perkampungan masyarakat yang dapat menyampaikan ilmu tanggap darurat kebencanaan kepada masyarakat lain.
Yanu juga menerangkan bahwa dalam sosialisasi tersebut, ia telah memberikan edukasi bagaimana sikap dan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi gempa. Sebab, maksimal gempa akan berlangsung selama 10 detik.
Masyarakat yang sedang berada di dalam ruangan atau bangunan tinggi, diharapkan untuk tetap tenang dan segera melakukan langkah-langkah keselamatan diri. Seperti berlindung di bawah meja atau pergi ke sudut bangunan dengan menutup kepala.
Apabila terdapat suara sirine atau tanda darurat di dalam bangunan, dimohon untuk tidak mengabaikan dan segera bergegas untuk keluar cari perlindungan.
Sedangkan di lingkungan pendidikan, BPBD telah membekali simulasi kepada anak-anak sekolah. BPBD menyarankan kepada pihak sekolah untuk menyalakan lonceng atau bel, dan pengumuman di ruang guru untuk menginstruksikan agar segera berlindung dan mengevakuasi diri ketika terjadi bencana.
Yanu juga menyarankan kepada masyarakat Surabaya untuk tetap mengikuti perkembangan informasi yang disampaikan oleh BMKG dan Command Center 112, agar tidak ada informasi hoaks yang dapat membuat kegaduhan masyarakat. (salsa)
Editor : Imron Arlado