Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gempa Megathrust Tidak Dapat Diprediksi, Pakar Geologi ITS Sebut Masyarakat di 7 Wilayah Ini Harus Berhati-hati

Imron Arlado • Senin, 19 Agustus 2024 | 22:47 WIB
Pakar Geologi ITS turut beri tanggapan mengenai potensi terjadinya gempa besar, Megathrust di Indonesia. Sumber: Jawa Pos Radar Surabaya
Pakar Geologi ITS turut beri tanggapan mengenai potensi terjadinya gempa besar, Megathrust di Indonesia. Sumber: Jawa Pos Radar Surabaya

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pakar geologi ITS Dr Amien Widodo memberikan penjelasan mengenai potensi terjadinya gempa Megathrust di Indonesia.

Dosen kampus ITS Surabaya itu menyebut guncangan gempa Megathrust dipicu oleh tumbukan lempeng dengan kedalaman antara 0-70 kilometer (km).

“Terjadinya gempa Megathrust karena adanya hambatan antar bidang lempeng, sedangkan lempeng terus bergerak,” tuturnya, Senin (19/8).

Terdapat 7 wilayah di Indonesia yang diprediksi dapat merasakan getaran tumbukan lempeng.

Amien menyebut beberapa wilayah itu, di antaranya pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Maluku Utara, pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua.

"Lempeng tektonik terus bergerak sehingga gempa megathrust akan terus berulang di daerah tersebut,” kata Amien.

Oleh karenanya, masyarakat Indonesia di 7 wilayah itu harus berhati-hati, dan diharapkan juga dapat menyiapkan ilmu mitigasi bencana alam.

Salah satu langkah dalam mitigasi Megathrust dapat dilakukan dengan cara mematuhi standar bangunan di Indonesia ketika mendirikan rumah.

Hal itu sebagai bentuk pencegahan dini terhadap gempa terutama bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai.

“Untuk mencegah potensi terjadinya Megathrust besar yang memicu tsunami di pesisir pantai,” tuturnya.

Sebagaimana informasi yang ditulis Supendi, dkk (2023) dengan judul  On The Potential for Megathrust Earthquake and Tsunamis Off The Southern Coast of West Java and Southeast Sumatra, Indonesia, bahwa gempa Megathrust ini juga berpotensi mendatangkan ombak tsunami dengan ketinggian 34 meter.

Fakta baru dari Peneliti Senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS membeberkan bahwa aktivitas gempa yang bersumber di zona Megathrust tidak selalu berkekuatan besar.

Melalui data hasil monitoring BMKG menunjukkan, justru gempa kecil lebih banyak terjadi di zona Megathrust.

“Terjadinya gempa ini juga tidak dapat diprediksi kapan waktunya, sehingga masyarakat tidak perlu panik,” terangnya.

Sedangkan untuk letak Indonesia telah diapit oleh tiga lempeng yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Samudra Hindia.

Lempeng-lempeng itu akan terus bergerak dan menghunjam ke permukaan bumi sejak jutaan tahun lalu.

Oleh sebabnya pergerakan lempeng yang terus menerus akan mengakibatkan akumulasi energi yang dapat memicu terjadinya gempa.

Dosen Departemen Teknik Geofisika itu menambahkan bahwa pergerakan lempeng tektonik akan terus berlangsung dengan kecepatan tertentu, antara dua hingga sepuluh sentimeter per tahun. Hal itu dapat mengakibatkan tumbukan Lempeng Samudera Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.

“Tumbukan kedua lempeng itu berpotensi menghasilkan gempa Megathrust,” pungkasnya. HILMI

Sumber: radarsurabaya

Editor : Imron Arlado
#tsunami #papua #gempa megathrust #Sulawesi utara #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #Pantai Selatan Bali #kepulauan maluku #BMKG #pantai selatan Jawa #pakar geologi ITS