JPRM - Pandemi Covid 19 telah mengguncang dunia sejak kemunculannya pada akhir 2019. Kini muncul virus Nipah. Dengan gejala awal yang hampir mirip namun memiliki tingkat bahaya yang jauh lebih berat.
Di tengah upaya global untuk mengendalikan penyebaran virus ini lewat lockdown, perhatian kembali tertuju pada virus Nipah yang diketahui berasal dari kelelawar.
Meski kedua virus ini sama-sama memiliki asal-usul dari hewan yang sama, mereka menunjukkan karakteristik yang berbeda dan menimbulkan tantangan kesehatan yang unik.
Covid 19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, telah menyebabkan krisis kesehatan global dengan jutaan kasus dan kematian di seluruh dunia.
Sebaliknya, virus Nipah, meskipun kurang dikenal, memiliki tingkat fatalitas yang jauh lebih tinggi dan berpotensi menyebabkan epidemi yang mematikan.
Namun, mengapa kedua virus ini, yang sama-sama berasal dari kelelawar, dapat memiliki dampak dan karakteristik yang begitu berbeda?
Asal-usul dan penularan
Meski kedua virus ini dikatakan berasal dari kelelawar, cara penularannya kepada manusia berbeda.
Covid 19, singkatan dari Coronavirus Disease 2019 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, pertama kali diidentifikasi di pasar basah Wuhan, Tiongkok akhir 2019.
Beberapa peneliti saat itu menuduh kelelawar karena ditemukannya DNA kelelawar.
Padahal di pasar basah Huanan sejauh ini belum ada yang menjual daging kelelawar. Para peneliti menganggap adanya hewan liar yang menjadi inang yang membawa penyakit dari kelelawar tersebut.
Terlebih lagi, pada saat itu penjual di pasar basah Huanan sering memotong hewan-hewan liar tersebut di depan para pelanggannya, sehingga terjadi aerosol (beberapa zat fisik yang berubah menjadi partikel kecil dan ringan, menguap ke udara sehingga menjadi aerosol).
Baca Juga: Ditabrak Pemotor, Kios Bensin Eceran di Mojosari Mojokerto Ludes Terbakar
Sekali lagi, kata peneliti, hewan liar memang berpotensi memiliki virus yang tersembunyi dan berisiko menyebar ke manusia.
Sedangkan virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada sebuah peternakan babi. Pada saat itu, hewan-hewan tersebut menunjukkan gejala demam, kesulitan bernapas, dan kejang.
World Health Organization (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menularkannya ke babi.
Kelelawar dianggap sebagai reservoir alami virus Nipah. Virus tersebut memang tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar, tetapi dapat menyebar dari mereka ke hewan lain, seperti babi.
Penularan virus Nipah dapat terjadi ketika manusia bersentuhan langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine.
Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa seseorang bisa terinfeksi virus Nipah melalui konsumsi daging hewan yang terinfeksi, terutama jika daging tersebut dimasak kurang matang.
Gejala Klinis
Gejala yang ditimbulkan oleh kedua virus ini juga menunjukkan perbedaan signifikan. Covid 19 memiliki spektrum gejala yang luas, dari yang ringan seperti demam, batuk, dan kehilangan indera penciuman, hingga yang parah seperti sesak napas dan komplikasi yang memerlukan perawatan intensif.
Masa inkubasi virus ini bervariasi, tetapi umumnya sekitar 2-14 hari setelah paparan.
Sedangkan virus Nipah, gejala infeksinya hampir sama seperti Covid-19. Seperti demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sesak napas, dan muntah.
Namun dapat menyebabkan gejala yang lebih berat seperti ensefalitis (peradangan otak) akut, yang dapat mengakibatkan kejang, kantuk berlebihan, kebingungan, dan dalam beberapa kasus, koma.
Masa inkubasi virus Nipah juga lebih panjang, berkisar antara 4 hingga 14 hari, dan kasus-kasus tertentu menunjukkan masa inkubasi hingga 45 hari.
Perbedaan kedua virus ini mengingatkan kita untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan wabah di masa depan dan yang lebih penting adalah pentingnya kesehatan global serta kebutuhan akan kerjasama internasional dalam menangani ancaman pandemi. Saffana Raisa Rahmania
Editor : Imron Arlado