Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Anak Tantrum Jangan Dimarahi. Ini Cara Agar Anak Mengenali Perasaan dan Mengelola Emosinya

Imron Arlado • Jumat, 3 Mei 2024 | 02:18 WIB
Anak tantrum perlu diberi treatmet khusus agar mampu mengendalikan emosinya. (Foto Jawa Pos)
Anak tantrum perlu diberi treatmet khusus agar mampu mengendalikan emosinya. (Foto Jawa Pos)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tantrum adalah suatu kondisi dimana anak meledakkan emosi negatifnya dengan berbagai cara. Seperti menangis kencang, berteriak marah, keras kepala bahkan sampai melemparkan barang. Hal ini dapat disebabkan karena keinginannya yang tidak terpenuhi atau mungkin ada perasaan yang sulit diungkapkan.

Ketika anak sedang merasa bosan, kesal, lelah, atau mengantuk, mereka bisa menjadi pemarah dan melemparkan barang di sekitarnya. Namun, tak jarang para orang tua menanggapi emosi marah anak ini sebagai sesuatu yang tidak diinginkan dan berpikir untuk segera diatasi.

Tak jarang juga orang tua malah memarahi anaknya yang keras kepala dan tak bisa diberitahu. Padahal emosi marah ini merupakan emosi yang normal dan bagian penting dalam tumbuh kembang si anak.

Tapi tenang saja. Tantrum pada anak usia 1-5 tahun itu hal yang wajar. Karena tantrum merupakan fase tumbuh kembang yang harus dilalui anak. Kosakata yang dimilikinya belum terlalu banyak, membuatnya sulit mengungkapkan apa keinginannya sehingga dia hanya bisa mengeluarkan emosinya ini yang disebut tantrum.

Namun, emosi negatif apabila tidak dikontrol dengan baik dan tepat bisa memengaruhi kehidupan sosial anak dan memicu munculnya sikap agresif pada anak. Oleh karena itu, sebagai orang tua, satu-satunya cara yang perlu dilakukan adalah dengan mengajari anak untuk mengontrol dan mengelola emosinya secara bijak dan tepat. Bagaimana caranya? Berikut informasinya!

  1. Ajarkan Anak Mengenali Emosinya

Anak yang tantrum tentu ada suatu hal penyebabnya. Hal tersebut memang sering terjadi pada anak usia 1-2 tahun untuk menyampaikan perasaannya. Namun, sebelum mengatur emosinya kita perlu mengajari anak untuk mengenal dan memahami perasaannya.

Sebagai orang tua, Anda bisa membantunya untuk mengenali emosi mereka dengan memperkenalkan jenis-jenis emosi pada anak. Anda bisa mengajarkan sebutan dari beberapa emosi pada anak. Yaitu emosi positif itu seperti bahagia dan terharu. Emosi negatif seperti marah, kesal, sedih, atau kecewa.

Kamu bisa mulai mengajarkan pada anak untuk mengomunikasikan perasaannya. Apa yang dirasakannya, dan apa yang  diinginkan. Kamu juga bisa mengajarkannya untuk memperhatikan perubahan fisik dan emosi mereka ketika sedang merasa marah.

Sebagai contoh kamu bisa menanyakan bagaimana perasaan anak, yaitu apabila anak tertawa, kamu bisa mengatakan "adik lagi bahagia ya?", atau ketika anak kesal, kamu bisa menanyakan, "apa yang membuat adik kesal?".  Dengan menanyakan hal seperti itu, anak bisa dengan mudah memahami dirinya sendiri dan mengatasi emosinya secara tepat.

  1. Validasi Emosi Anak dan Pahami Pemicunya

Ketika anak menyampaikan perasaannya, Anda perlu memvalidasi perasaannya dan mengatakan bahwa emosi yang dirasakan anak itu normal dan hal alami. Perasaan anak perlu divalidasi agar mereka tahu orang tuanya mengerti dan memahami serta mengakui perasaan yang sedang dirasakannya.

Ini bisa membantu perkembangan emosi anak. Ketika anak-anak diizinkan untuk mengekspresikan perasaannya mereka akan menjadi pribadi yang terbuka dan jujur. Mereka juga bisa mengembangkan self-compassion. Misalnya anak sedang merasa marah karena mainannya diambil temannya, kita bisa mengatakan, "adik sedih ya mainannya rusak? Tidak apa-apa kalau mau menangis dulu".

Selain itu, ketika anak sedang tantrum sebelum kamu menasehati anak, pastikan dahulu pemicu penyebab kemarahan anak. Dengan mengetahui faktor penyebab anak tantrum, kamu bisa dengan mudah mencari solusi pada anak sesuai permasalahannya.

  1. Ajarkan Anak untuk Mengekspresikan Emosinya dengan Cara yang Sehat

Setelah mengetahui pemicu emosinya, orang tua bisa bisa mengajarkan anak untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang tepat dan sehat. Orang tua juga bisa mengajarkan anak untuk mengkomunikasikan perasaannya tanpa menggunakan amarah. Misal, kamu bisa mengatakan, "adik boleh marah, boleh bilang aku marah, tapi adik gak boleh teriak,"

  1. Berikan Contoh Perilaku Pengelolaan Emosi yang Tepat

Anak-anak belajar dari apa yang dilihat dari sekitarnya. Sebagai orang tua, kita perlu memberikan contoh perilaku yang baik dan tepat ketika menghadapi situasi yang bisa menimbulkan emosi marah. Misalnya, ketika kamu menghadapi suatu situasi yang menyebalkan, maka kamu perlu menyelesaikannya dengan kepala dingin dan damai, serta menghindari perilaku agresif. Dengan menunjukkan sikap positif ketika menghadapi kesulitan, maka anak akan meniru yang dilakukan oleh orang tuanya.

  1. Berikan Waktu Sendiri

Salah satu cara untuk mengendalikan emosi anak adalah dengan memberikan anak waktu sendiri. Saat anak sedang marah atau tantrum, tak jarang anak secara tidak sengaja melakukan hal-hal buruk. Seperti, melemparkan barang-barang di sekitarnya, atau memaki. Tentu hal tersebut merupakan perilaku buruk. Hal yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan membiarkannya sendiri dahulu.

Kemudian, ketika  sudah tenang, kamu bisa memberitahunya bahwa perilaku tersebut adalah salah dan buruk.  Kamu bisa mengingatkan untuk tidak mengulangi perilakunya yang tidak baik tadi. Beri dia waktu sekitar 5 atau 10 menit untuk menyendiri dan menyerap nasihat dari orang tuanya. Setelah waktu berakhir, minta anak untuk membersihkan dan merapikan barang-barang yang dilemparkannya tadi dan meminta maaf.

  1. Ajarkan Teknik Relaksasi untuk Mengelola Emosi Anak

Ketika anak mulai agak tenang, kamu bisa mengajarkan anak untuk melakukan teknik relaksasi yang sederhana. Seperti melatih anak untuk menarik nafas sampai hitungan ketiga dan menghembuskan nafas secara perlahan, atau meniup lilin. Orang tua bisa memberikan gambaran agar anak menghayalkan sebuah lilin ulang tahun kemudian menarik napas yang panjang dan hembuskan seakan  sedang  meniup untuk memadamkan api.

  1. Berikan Apresiasi Anak

Hal yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan mengapresiasi usaha anak yang sudah mau belajar mengelola dan mengontrol emosinya. Dengan apresiasi yang didapatkan dari orang tuanya menandakan orang tuanya bangga akan usahanya. Dan anak akan merasa dihargai akan usahanya untuk mengendalikan emosinya sendiri. (Firza Aulia Ningrum)

Editor : Imron Arlado
#emosi anak #kesehatan mental #tantrum