RADARMOJOKERTO - Surah Yasin dikenal sebagai jantung Alquran.
Sehingga Nabi Muhammad SAW menginginkan agar surah Yasin ada di setiap hati umatnya.
KH Chusaini Ilyas menjelaskan, surah ini memiliki hikmah yang sangat besar, karena terdiri dari 83 ayat.
Di mana 80 ayat tersebut dibagi menjadi empat untuk dikumpulkan fadilahnya.
”Dua puluh ayat pertama menghilangkan segala kesulitan ketika hidup di dunia. Sehingga banyak dari umat Nabi yang senantiasa membaca surah Yasin diberi kebahagiaan dan kelapangan hati,” papar Kiai Chusaini.
Di 20 ayat kedua, lanjut Kiai Chusaini, memiliki hikmah menjauhkan para pembacanya dari siksa kubur, beserta pertanyaan-pertanyaan di dalamnya.
Dua puluh ayat ketiga, pembacanya akan dipayungi menuju padang mahsyar setelah bangkit dari kubur di hari akhir.
Serta, 20 ayat terakhir akan dibawakan seragam dari surga oleh malaikat untuk orang yang semasa hidupnya senantiasa membaca surah Yasin.
”Dan tiga ayat terakhir dari surah Yasin, akan menjadi barakah, rahmat dan syafaat,” terang pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto ini.
Sehingga orang yang senantiasa membaca surah Yasin merupakan golongan dakhalal jannah bighairi hisab (orang yang masuk surga tanpa hisab).
Surah Yasin ini biasa dibacakan untuk mengiringi tahlil, dikhususkan untuk mengrim doa kepada seseorang yang telah meninggal.
Kiai Chusaini menjelaskan, dalam hal ini, sejatinya orang meninggal terdiri dari empat golongan. Yakni, golongan Nabi dan Rasul.
Menjelang wafatnya seseorang tersebut, Allah SWT memerintahkan malaikat untuk membawakan kendaraan dari surga yang akan digunakan untuk menjemput ruh para Nabi dan Rasul.
Serta diantarkannya ruh tersebut ke surga.
Kemudian diberikannya hidangan surga untuk mereka nikmati.
Kedua, golongan syahid.
Mati syahid tidak dilihat dari jabatan yang dimiliki.
Melainkan, dilihat dari cara meninggalnya.
Syahid dibagi menjadi dua golongan.
Yakni syahid dunia-akhirat untuk berperang memperjuangkan Islam.
Kedua syahid akhirat, bagi seseorang yang meninggal secara mendadak dengan keadaan hati beriman kepada Allah SWT.
”Sedangkan syahid akhirat yang paling mudah kita lakukan ialah dengan mengaji. Meninggal dengan keadaan syahid ini, ruhnya akan dijemput malaikat untuk diantarkan ke surga. Namun, mereka hanya bisa mencicipi sedikit dari hidangan surga,” imbuh kiai kharismatik ini.
Ketiga, matinya para mukmin yang tidak memiliki dosa sama sekali, yakni para wali.
Di golongan ini mereka dijemput dengan kendaraan tanpa menikmati hidangan surga.
Serta yang terakhir, orang mukmin yang meninggal dengan membawa dosa.
Mereka tidak dijemput kendaraan surga yang suci dan tidak boleh ternodai dengan dosa yang kotor.
”Akan tetapi Nabi Muhammad SAW memberi keringanan. Dalam hadis Nabi disebutkan, anak cucu Nabi Adam ketika meninggal amalnya putus kecuali tiga perkara. Yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak cucu yang salih salihah,” pungkas Kiai Chusaini. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris