Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Khazanah Arsitektur Majapahit, Rumah Berjarak Cegah Kebakaran Merantak

Yulianto Adi Nugroho • Sabtu, 23 Maret 2024 | 21:35 WIB

TEMUAN BESAR: Situs Watesumpak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang diyakini sebagai kompleks permukiman bangsawan Majapahit diekskavasi pada 2022 silam.
TEMUAN BESAR: Situs Watesumpak di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang diyakini sebagai kompleks permukiman bangsawan Majapahit diekskavasi pada 2022 silam.
KEKAYAAN arsitektur era kerajaan Majapahit tak sekadar menunjukkan majunya ilmu konstruksi, melainkan juga upaya mitigasi bencana.

Selain membuat bangunan tahan getaran, rumah-rumah penduduk didirikan dengan cukup jarak sebagai antisipasi apabila terjadi kebakaran tidak menjalar. 

Pengetahuan kompleks mengenai arsitektur dari masa 700 silam yang sarat nilai filosofis itu diwarisi hingga zaman kolonial.

Ketua Perkumpulan Peduli Majapahit Gotrah Wilwatikta, Anam Anis, mengatakan jejak keilmuan tersebut dapat diamati dari sisa-sisa bangunan rumah-rumah dinas peninggalan Hindia Belanda.

Salah satunya di kompleks bekas pabrik gula di Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. 

Di sana, deretan rumah kuno berdiri dengan jarak yang cukup jauh. Tak berdempet.

Menurut Anis, teknik pemisahan antarbangunan itu bertujuan untuk mencegah kebakaran massal. Apabila rumah dibiarkan rapat sebagaimana di kota-kota besar sekarang, akan menimbulkan kerugian besar saat terjadi bencana kebakaran. Sebab, api akan lebih mudah merantak

’’Rumah berjejer dan tidak ada yang mepet, ada jarak. Konstruksi Belanda di rumah pabrik gula kan seperti itu. Ternyata itu dimaksudkan supaya kalau ada kebakaran tidak sampai kena semua,’’ ungkap pengacara kelahiran 1958 itu. 

Anis mengungkapkan, konsepsi ini dapat dirunut dari gambaran lanskap permukiman era Majapahit yang sudah banyak ditemukan para ahli. Gambaran itu juga termuat dalam kitab Negarakertagama.

Menurutnya, rumah-rumah Majapahit memiliki pelataran yang luas bak taman. Khusus bangsawan dan pembesar kerajaan, rumah umumnya dilengkapi pendapa tempat transit tamu. 

Peradaban Majapahit juga menerapkan teknik bangunan yang berisiko rendah terhadap gempa. Keterampilan membangun rumah kayu tanpa paku membuat bangunan lebih fleksibel dan tahan getaran.

Sambungan rangka kayu diikat dengan tali bambu ataupun pasak berbahan kayu atau bambu seukuran pensil. 

Selain itu, teknologi pengaturan suhu ruangan juga telah diterapkan dengan melumuri dinding menggunakan tanah lempung. Teknik pelapisan itu mampu menjaga temperatur rumah agar tetap sejuk saat musim panas dan hangat ketika hawa dingin menyergap. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#majapahit mojokerto #arsitektur majapahit #kerajaan majapahit #mojokerto