Peninggalan ini dapat dilihat pada konstruksi situs-situs terkait Majapahit. Banyak cagar budaya yang tetap berdiri kokoh dengan struktur batu bata kuno yang disusun tanpa perekat.
’’Tidak ada yang pakai pasir dan semen, cuma digosok,’’ ujar Anam Anis, pengkaji sejarah Majapahit.
Pemimpin Yayasan Wilwatikta Gotrah yang juga bos Organisasi Bantuan Hukum LPPA Bina Annisa Mojokerto itu menjelaskan, teknik penggosokan antarpermukaan membuat bata saling melekat kuat.
Proses penggosokan dilakukan saat tahap pemasangan batu bata dari tanah berkualitas top yang telah dibakar sedemikian kuat mengering.
’’Digosok-gosok dengan dikasih air sedikit. Dan, itu sudah sangat kuat, tidak kalah dengan beton eser,’’ bebernya.
Dalam banyak literatur disebutkan, proses penggesekan menghasilkan serbuk halus batu bata.
Setelah dibiarkan mengering beberapa saat, serbuk berubah menjadi perekat layaknya semen. Batu bata era Majapahit disebut berukuran rata-rata 40x20 sentimeter, dua kali lipat disbanding batu bata sekarang.
Anis menyatakan, kehebatan konstruksi bata zaman kuno itu tak lepas dari kepiawaian para arsitektur. Mereka memegang peran begitu sentral sehingga mampu menghasilkan bangunan kokoh yang bertahan lintas zaman. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah